Menko Airlangga: Insentif bantu pasar modal bertahan saat pandemi

Risbiani Fardaniah
·Bacaan 2 menit

Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengklaim insentif yang diberikan oleh pemerintah telah membantu pasar modal bertahan saat pandemi dan kini terus menunjukkan pemulihan usai terpuruk saat pandemi masuk Tanah Air pada Maret 2020.

Menko Airlangga mencontohkan stimulus bagi pasar modal yaitu berupa penurunan tarif Pajak Penghasilan (PPh) Badan bagi Wajib Pajak Go Public dan pajak dividen, yang ditujukan untuk mendorong pelaku usaha bergabung dan mencatatkan diri di Bursa Efek Indonesia (BEI).

"Stimulus ekonomi di masa pandemi kita dorong agar terus bisa membuat banyak perusahaan tercatat di bursa efek, seperti PPh Badan maupun Wajib Pajak perusahaan go public," ujar Menko Airlangga saat menutup perdagangan bursa 2020 di Jakarta, Rabu.

Baca juga: Menko Airlangga: Investor ritel bantu pasar modal dan ekonomi pulih

Selain itu stimulus juga diberikan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Self-Regulatory Organization (SRO) untuk memberikan relaksasi bagi pelaku usaha yang terdampak COVID-19 dan meredam volatilitas serta menjaga stabilisasi pasar modal.

"Khusus untuk menjawab tantangan digitalisasi di sektor pasar modal, pemberian kuasa elektronik telah diberlakukan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Calon investor juga diberikan kemudahan untuk membuka rekening saham secara online. Di satu sisi, sentimen positif juga terus dijaga melalui peningkatan komunikasi dan koordinasi yang berkualitas," kata Menko Airlangga.

Ia menuturkan pada penutupan perdagangan 29 Desember 2020, IHSG telah naik menyentuh angka 6.036,17. Level tersebut telah mendekati level sebelum pandemi COVID-19. Seiring dengan itu nilai kapitalisasi pasar secara perlahan meningkat sudah kembali ke angka Rp7.033,76 triliun atau naik lebih dari Rp2.477 triliun dibandingkan posisi terendah akhir Maret 2020.

Baca juga: OJK: Jumlah investor pasar modal melonjak 42 persen di tengah pandemi

Terkait perkembangan Initial Public Offering (IPO) 2020, meski jumlahnya lebih sedikit dibandingkan tahun lalu, tapi masih lebih baik daripada negara lain di ASEAN. Menurut data OJK, sebanyak 53 emiten baru telah mendapat pernyataan efektif dari OJK dan 51 emiten telah tercatat di bursa, sehingga ini menjadi penambahan terbanyak di ASEAN.

"Jumlah investor retail juga naik di tahun ini. Hal ini menunjukkan bahwa mereka percaya (kepada pasar modal Indonesia), dan ini dasar yang bagus untuk pengembangan pasar ke depan," ujar Menko Airlangga.

Setelah sempat mengalami net outflow cukup besar pada Maret 2020 yang mencapai 7,9 miliar dolar AS, sejak Mei 2020 aliran modal terus mengalami net inflow yakni 1,2 miliar dolar AS (Oktober 2020) dan 1,3 miliar dolar AS (November 2020).

Baca juga: IHSG akhir tahun ditutup di zona merah

Baca juga: Rupiah akhir tahun ditutup menguat tajam, dekati Rp14.000 per dolar