Menko Airlangga Klaim Penanganan Pandemi di Indonesia Lebih Baik Dibanding Global

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengklaim, penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia lebih baik dibanding global. Keberhasilan ini tak lepas dari kian menguatnya kolaborasi antara pemerintah, stakeholders terkait, dan seluruh lapisan masyarakat.

"Seiring dengan waktu, penanganan pandemi yang diupayakan pemerintah dan didukung oleh masyarakat menunjukkan hasil yang semakin baik dari (global)," ungkapnya dalam webinar bertajuk Transformasi Ekonomi: Mendorong Investasi di Indonesia Melalui Implementasi UU Cipta Kerja, Kamis (29/4/2021).

Klaim tersebut tercermin dalam berbagai perbaikan kinerja sejumlah indikator. Saat ini, tren harian penularan kasus Covid-19 secara nasional terus mengalami penurunan secara signifikan.

Kemudian, jumlah kasus aktif Covid-19 di tanah air juga masih lebih rendah daripada global. "Dan presentase kesembuhan di kita lebih baik dari global," tekannya.

Selain itu, pelaksanaan vaksinasi Covid-19 di dalam negeri juga terus dikebut guna mendapatkan herd imunity dalam waktu dekat. Menurutnya, realisasi penyuntikan dosis vaksin di Indonesia sendiri termasuk dalam 11 besar dunia. Sementara untuk negara non produsen vaksin Indonesia menempati peringkat nomor 4 di dunia.

"Sehingga, kecepatan vaksinasi terus diupayakan. Hingga 27 April 2021, 19,1 juta dosis telah disuntikan dan akan terus ditambahkan dengan kecepatan vaksinasi hingga mencapai 500 rubu dosis per hari," tegasnya mengakhiri.

Reporter: Sulaeman

Sumber: Merdeka.com

Waduh, Negara Kehilangan Pendapatan Rp 1.356 Triliun di 2020 Gara-Gara Covid-19

Paramedis melakukan penyuntikan vaksin Covid-19 kepada guru di Teraskota Mall. Tangerang Selatan, Banten, Rabu (28/04/2021). Vaksinasi dalam rangka persiapan kegiatan belajar tatap muka secara terbatas di wilayah Tangsel pada Juli mendatang. (merdeka.com/Arie Basuki)
Paramedis melakukan penyuntikan vaksin Covid-19 kepada guru di Teraskota Mall. Tangerang Selatan, Banten, Rabu (28/04/2021). Vaksinasi dalam rangka persiapan kegiatan belajar tatap muka secara terbatas di wilayah Tangsel pada Juli mendatang. (merdeka.com/Arie Basuki)

Sebelumnya, Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati menyatakan, pandemi Covid-19 menjadi tekanan yang luar biasa bagi negara di dunia, termasuk Indonesia. Apalagi, kehadiran virus asal China itu sudah menghilangkan kesempatan Indonesia untuk meraih pertumbuhan ekonomi 2020 sebesar 5,3 persen.

Dia mengatakan, adanya pandemi Covid-19, justru menghantarkan pertumbuhan ekonomi Indonesia terkontraksi minus 2,07 persen. Akibatnya negara kehilangan potensi pedapatan sebesar Rp1.356 triliun di 2020.

"Pertumbuhan ekonomi 2020 sebelum covid ditargetkan 5,3 persen dan berakhir dengan minus 2 persen. Maka nilai kerugian yang hilang diestimasi Rp1.356 triliun atau 8,8 persen dari GDP 2020," jelasnya dalam Rapat Koordinasi Pembangunan Pusat 2021, secara virtual, Kamis (29/4).

Melihat potensi kerugian tersebut, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mengambil peran sebagai instrumen utama yang melakukan countercyclical atau menahan dampak Covid-19 agar tidak merosot ke bawah. Sehingga dilakukanlah pelebaran defisit mencapai sekitar 6 persen lewat Undang-Undang Nomor 2 tahun 2020.

"Maka APBN sebagai suatu instrumen menahan kemerosotan itu dengan panahnyaa yang ke atas.Dalam hal ini menyebabkan defisit kita mengalami peningkatan dan ini merupakan suatu perjalanan yang cukup panjang," jelasnya.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: