Menko Airlangga Optimis pada Pemulihan Ekonomi di 2021

Septian Deny
·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan bahwa kebijakan yang berjalan baik di 2020 patut diteruskan terutama dalam penanganan Covid-19 dan pemulihan kehidupan masyarakat.

Sejumlah reformasi struktural yang telah disiapkan pemerintah di tahun ini diperkirakan akan mulai terlihat hasilnya di tahun 2021.

Implementasi UU Cipta Kerja, melalui sejumlah Peraturan Pelaksanaan akan mulai diberlakukan pada Februari 2021 dan diharapkan akan mendorong aktivitas ekonomi-sosial masyarakat, mendukung masuknya investasi dan juga capital inflow.

Presiden Jokowi juga telah memastikan Pemerintah akan segera memberikan vaksin gratis ke seluruh masyarakat di awal 2021. Program vaksinasi ini diharapkan akan memberikan kepercayaan publik terhadap penanganan Covid-19 dan menimbulkan rasa aman di masyarakat. Dengan demikian, pemulihan ekonomi nasional diharapkan dapat berjalan dengan lebih cepat.

Menanggapi hal tersebut, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, Pemerintah telah mempersiapkan langkah mendasar dengan melakukan reformasi struktural yang akan mulai di awal tahun 2021.

Menurut Airlangga, dari upaya yang telah dilakukan pemerintah diharapkan hasilnya sudah mulai terlihat di sepanjang tahun 2021.

“Pemerintah menggunakan momentum ini untuk meraih peluang dalam mendorong pemulihan ekonomi, dengan melakukan reformasi struktural melalui kemudahan berusaha, pemberian insentif usaha, dan dukungan UMKM, untuk memberikan kepastian usaha dan menciptakan iklim usaha dan investasi yang lebih baik, sehingga penciptaan lapangan kerja dapat terealisasi. Salah satu pendorong utama (key-driver) yang diandalkan adalah melalui UU Cipta Kerja,” ungkap Menko Airlangga dikutip Senin (28/12/2020).

Selain itu, sejumlah strategi lainnya turut disiapkan, yaitu dengan melanjutkan Program Komite PC-PEN (Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional) di tahun 2021.Yakni dukungan kebijakan untuk pemberdayaan UMKM, penyusunan Daftar Prioritas Investasi (DPI), dan pembentukan Lembaga Pengelola Investasi (LPI) atau SWF.

Menurut Airlangga, sinyal pemulihan mulai terlihat, ekspor mulai pulih pada akhir 2020 dan tren ini diharapkan terus terjaga pada tahun 2021.

Indonesia telah mendapatkan kembali fasilitas Generalized System of Preferences (GSP) yang tentunya akan mendorong ekspor Indonesia.

Berdasarkan data PDB pada Triwulan III tahun 2020 yang telah menunjukkan tren perbaikan, pemerintah optimistis akan terus berlanjut di Triwulan IV 2020 dan sepanjang tahun 2021.

“Indonesia telah melewati posisi rock bottom, posisi terendah ekonomi pada Triwulan II. Kita optimistis tren perbaikan dan pemulihan ekonomi akan terus berlanjut pada tahun mendatang,” ujar Menko Airlangga.

Menko Airlangga Sebut Ekonomi Indonesia Telah Alami Masa Rock Bottom

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko Perekonomian) Airlangga Hartarto mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami perbaikan dari waktu ke waktu, kendati pandemi masih melanda.

Indonesia sudah melampaui fase rock bottom dimana pertumbuhan ekonomi mengalami kontraksi yang sangat dalam.

"Dari sisi ekonomi, ekonomi kita sudah melampaui rock bottom di kuartal II, di kuartal III sudah -3,49 persen. Kita prediksi di akhir tahun bisa -2 hingga 0,6 persen," ujarnya dalam konferensi pers BNPB, Kamis (24/12/2020).

Untuk mencapai angka positif, kata Airlangga, memang perjuangannya tidak mudah. Namun, tren perbaikan ekonomi sudah terlihat dari kuartal per kuartal terutama di kuartal III, dimana konsumsi pemerintah tumbuh 9,76 persen.

Di kuartal IV, lanjutnya, cerminan pertumbuhan ekonomi terdapat di pasar modal.

"IHSG mencapai 6.100, dimana pada Januari itu 5.400. Rupiah juga sudah menyentuh Rp 14.100 (per dolar Amerika Serikat). Perdagangan positif di Oktober, neraca dagang itu kontinyu year to datenya. Cadangan devisa juga naik menjadi USD 135 miliar akibat perdagangan yang positif," jelas Airlangga.

"Dibandingkan negara G20, kita terkontraksi, namun relatif dalam posisi nomor 2 sesudah China. Jadi kita masih minus, tapi yang lain minusnya lebih dalam," tambahnya.

Airlangga melanjutkan, sinyal positif terhadap pasar juga didukung oleh komitmen pemerintah dalam penyediaan vaksin.

Hingga kini, Indonesia telah mendatangkan 1,2 juta dosis vaksin Sinovac dan akan bertambah 1,8 juta lagi, plus 15 juta dosis dalam bentuk bahan baku.

"Jadi dari segi penanganan Covid-19, kita relatif baik. Kita masih perlu kerja keras, tapi apa yang dilakukan Indonesia kebijakannya ada di jalur yang tepat," tandasnya.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: