Menko Airlangga: Perbaikan indeks manufaktur momentum ekonomi pulih

Risbiani Fardaniah
·Bacaan 2 menit

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memastikan perbaikan kinerja Indeks Manufaktur Indonesia akan menjadi momentum percepatan pemulihan ekonomi nasional.

IHS Markit mencatat Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia berada pada posisi 53,2 di Maret 2021, naik dari posisi 50,9 pada Februari, atau tertinggi sejak survei dilaksanakan April 2011.

"Indeks PMI ini menunjukkan pemulihan ekonomi yang semakin terakselerasi sejak awal 2021. Momentum ini harus terus kita jaga, agar pemulihan ekonomi nasional setelah pandemi semakin cepat," kata Menko Airlangga di Jakarta, Kamis.

Ia mengatakan pemerintah akan terus menjaga momentum perbaikan signifikan pada kondisi bisnis dengan mempercepat vaksinasi untuk meningkatkan kepercayaan publik dari sisi konsumsi hingga investasi.

Baca juga: Indeks Manufaktur RI capai rekor tertinggi dalam satu dekade

Pemerintah juga akan fokus memberikan stimulus untuk belanja masyarakat, mengingat konsumsi rumah tangga memberikan kontribusi hingga 58 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Untuk itu pemerintah memberikan relaksasi Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atas sektor properti serta relaksasi Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) untuk pembelian mobil baru dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) minimal 705 untuk mobil bermesin 1.500 cc dan 2.500 cc.

"Pemberian insentif PPnBM untuk Kendaraan Bermotor dan insentif PPN untuk sektor perumahan, bisa berkontribusi cukup signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi, melalui multiplier effect-nya," kata Menko Airlangga.

PMI merupakan indikator ekonomi yang dibuat melalui survei terhadap sejumlah purchasing manager, di berbagai sektor bisnis. Indeks yang paling diperhatikan investor dan analis adalah untuk sektor manufaktur yang disebut PMI Manufacturing.

Baca juga: PMI manufaktur tertinggi, Menperin: Indikasi ekonomi bakal cepat pulih

Posisi PMI yang tinggi di sektor manufaktur, berarti menunjukkan adanya belanja yang tinggi terhadap barang modal dan bahan baku, sehingga mengindikasikan adanya peningkatan produksi manufaktur.

Sejumlah perusahaan telah mengapresiasi indeks PMI Indonesia yang terus berada di level ekspansi, sehingga dapat mengurangi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap karyawan.

Perusahaan juga semakin percaya diri untuk memperluas aktivitas ekspansi sehingga diperkirakan penjualan dapat lebih tinggi dan pemasaran akan menunjang kenaikan output produksi, pada akhir pandemi.

Sementara itu, optimisme terhadap adanya pemulihan ekonomi juga didukung oleh kenaikan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Februari 2021 sebesar 85,8.

Survei konsumen Bank Indonesia itu mengindikasikan keyakinan terhadap perbaikan kondisi ekonomi, baik dari sisi ketersediaan lapangan kerja, penghasilan maupun ketepatan waktu pembelian barang tahan lama.

Baca juga: Wamenkeu: Indonesia punya pijakan bagus untuk pulih lebih cepat