Menko Airlangga Yakin Ekonomi Indonesia Sentuh 4,4 Persen di Akhir 2021

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto masih sangat yakin bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa menyentuh level 3,7 persen sampai 4,4 persen di 2021. Namun memang, bayang-bayang penyeberan virus Covid-19 varian delta masih cukup mempengaruh optimisme tersebut.

"Di akhir tahun range ini antara 3,7 persen sampai 4,4 persen tapi tergantung pada varian delta dan kita harap ini bisa ditangani dengan cepat," kata Airlangga dalam konferensi pers, Jakarta, Jumat (9/7/2021).

Penanganan virus varian delta sangat memengaruhi asumsi pertumbuhan ekonomi pemerintah. Bila bisa lebih cepat tertangani, maka prediksi pertumbuhan ekonomi nasional bakal langsung melonjak. Sebaliknya bila lamban ditangani maka targetkan akan konservatif.

Ketua Umum Partai Golkar ini menjelaskan hingga akhir kuartal I 2021, pertumbuhan ekonomi tercatat -0,72 persen. Lalu pada kedua pemerintah mendorong percepatan pemulihan ekonomi dengan memberikan sejumlah relaksasi pajak.

"Pada kuartal kedua kita dorong dengan berbagai kebijakan dan relaksaski. Kita melihat pemulihan itu terlihat dan pemerintah lihat angka 7 persen ini bisa dicapai di kuartal 2,"

Selain itu didorong juga dengan surplus neraca perdagangan sampai dengn 13 bulan berturut-turut. Pada bulan Mei 2021 surplus ini mencapai USD 10,6 miliar yang ditopang dengan harga komodotas batubara, baja, kelapa sawit, karet, dan alumium. Termasuk juga dengan CPO dan turunanya dan produk ekspor terkait perhiasan.

Hanya saja memasuki kuartal ketiga Indonesia dihadapkan dengan penyebaran virus yang meningkat secara signifikan. Sehingga indeks konsumen yang sudah berada di level 104 ini dikhawatirkan menurun. Sejalan dengan target penurunan mobilitas manusia hingga 50 persen.

Untuk itu, roda perputaran ekonomi kembali dibebankan kepada belanja pemerintah. Diharapkan permintaan konsumsi masih bisa didorong hingga di atas 5,6 persen.

"Kita harap konsumsi kuartal II ini masih didorong masih di atas 5,6 persen ini konsisten diikuti di Q4," kata dia.

Selain itu sektor investasi diharapkan juga bisa jadi penopang pertumbuhan ekonomi hingga akhir tahun. Momentum peningkatan ekspor juga harus terus dijaga agar tetap bisa bertahan di angka 13 persen.

Airlangga menambahkan, penanganan virus varian delta di Indonesia tidak jauh berbeda dengan yang dilakukan di India. Melalukan kebijakan PPKM darurat dan mikro serta mempercepat proses vaksinasi.

Reporter: Anisyah Al Faqir

Sumber: Merdeka.com

Terlalu Pede, Indef Sarankan Pemerintah Revisi Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi 2022

Suasana gedung bertingkat nampak dari atas di kawasan Jakarta, Senin (7/11). Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal III 2016 mencapai 5,02 persen (year on year). (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Suasana gedung bertingkat nampak dari atas di kawasan Jakarta, Senin (7/11). Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal III 2016 mencapai 5,02 persen (year on year). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, Institute of Development of Economics and Finance (Indef) menyarankan pemerintah untuk merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi 2022.

Direktur Program Indef Esther Sri Astuti mengatakan, penanganan Covid-19 di Indonesia masih belum maksimal sehingga kemungkinan besar target pertumbuhan ekonomi yang ditetapkan akan meleset.

"Jika menargetkan 5 persen, itu terlalu optimistis. Kalau saat pandemi ini ditargetkan 5 persen, mohon bisa dikoreksi," ujar Esther dalam webinar Kajian Tengah Tahun Indef 2021, Rabu (7/7/2021).

Lanjut Esther, pertumbuhan ekonomi Indonesia sebelum pandemi melanda saja hanya berada di kisaran 5 persen. Oleh karenanya, mencapai angka yang sama saat pandemi belum selesai dan ekonomi masih mengalami pemulihan menjadi hal yang sulit dilakukan.

Selain itu, secara keseluruhan penyaluran kredit masih tertahan karena risikonya masih tinggi, beriringan dengan jumlah Dana Pihak Ketiga (DPK) yang meningkat.

Hal ini disebabkan karena tingkat konsumsi masyarakat yang berkurang untuk berjaga-jaga di masa ketidakpastian.

"Dan kita lihat juga risiko kredit ini ditunjukkan dengan NPL (non performing loan) yang secara agregat nilainya masih tinggi," ujar Esther.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel