Menko Luhut Ajak Mahasiswa Berinovasi Demi Bawa Indonesia Maju di 2045

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta Indonesia bercita-cita lepas dari statusnya sebagai negara berkembang, dan menjadi negara maju pada tahun 2045. Maka dari itu, mahasiswa/Mahasiswi atau civitas akademia lainnya diharapkan dapat berfikir inovatif/out of the box soal pengolahan komoditas mentah.

Hal itu disampaikan oleh Menko Marves Luhut B. Pandjaitan atau Menko Luhut dalam orasi ilmiahnya di hadapan Civitas Akademika Fakultas Geologi Universitas Padjajaran (Unpad).

Acara Dies Natalis FG Unpad ke-62 yang dibuka oleh Rektor ini dihadiri secara virtual oleh 300-an peserta.

"Saya mendorong rekan-rekan sekalian untuk terus belajar dan berkarya, dan memahami isu kritikal serta berwawasan lingkungan demi masa depan Indonesia maju," ujar Luhut dalam pernyataannya yang disampaikan secara virtual, dikutip Sabtu (20/11/2021).

Pengantar tersebut disampaikan oleh Menko Luhut bukan tanpa alasan. Diketahui bahwa Indonesia, karena kekayaan sumber daya alam yang melimpah telah bergantung pada komoditas mentah selama puluhan tahun.

Menko Luhut pun lantas menyebutkan bahwa ketergantungan terhadap komoditas mentah itu dapat berakibat fatal bagi Indonesia, mengingat harga komoditas sangat fluktuatif.

Salah satu contoh dampak negatif dari ketergantungan tersebut adalah menurunnya angka ekspor Indonesia ketika commodity boom berakhir setelah tahun 2013.

"Ketergantungan ini pun mengganggu jalannya industrialisasi, karena membuat kita cenderung berpuas diri, terutama ketika harga komoditas dunia sedang tinggi – padahal banyak faktor eksternal yang mempengaruhi harga tersebut," jelas Menko Luhut.

Dengan adanya pengalaman tersebut, pemerintah, melakukan berbagai upaya agar Indonesia dapat melakukan hilirisasi sumber daya mineralnya.

“Jika melihat dari nikel saja, kita dapat melihat keberhasilan hilirisasi ke arah stainless steel dengan ekspor besi baja pada tahun 2020 mencapai 10,9 miliar USD, hampir 10 kali nilai ekspor pada 2014 sebesar 1,1 miliar USD. Pembangunan ini juga berimbas ke meningkatnya lapangan kerja terutama di bidang teknologi. Di PT IMIP sendiri, lebih dari 30.000 SDM diserap sebagai tenaga kerja”, papar Menko Luhut.

Namun demikian, SDM Indonesia belum sepenuhnya dapat memenuhi kebutuhan industri, sehingga masih diandalkannya TKA untuk pengoperasian beberapa mesin tertentu meski porsinya kecil, yakni kurang dari 10 persen total tenaga kerja.

Agar tidak terlalu lama bergantung pada tenaga kerja asing, pemerintah terus mendorong industri melakukan transfer pengetahuan dan teknologi agar masyarakat Indonesia dapat meraih manfaat di kemudian hari, tambah Menko Luhut.

Ada pun dampak positif secara ekonomi yang dirasakan oleh daerah-daerah yang melakukan hilirisasi nikel. Manfaat itu salah satunya pertumbuhan ekonomi di daerah-daerah tersebut terjaga, selama masa pandemi.

Menko Luhut membeberkan, "Contohnya PDRB Sulawesi Tengah yang tidak mengalami kontraksi sama sekali sepanjang 2020 hingga saat ini, meskipun daerah lain dan PDB Indonesia mengalami kontraksi dalam terutama pada kuartal II-2020".

Disisi lain, Menko Luhut menyebutkan bahwa pada era yang dinamis ini, isu energi dan sumber daya mineral memasuki babak baru.

Dengan makin memburuknya dampak perubahan iklim, banyak negara-negara di dunia terus memperbarui memperbaharui target emisi mereka.

"Karena secara jangka panjang, perubahan iklim, terutama yang diakibatkan aktivitas manusia (man-made), dapat mengancam kehidupan kita semua," ujarnya.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Selanjutnya

Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan secara virtual pada webinar bertajuk
Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan secara virtual pada webinar bertajuk

Menko Luhut menceritakan, berbagai negara memajaki karbon, baik secara langsung maupun dengan menerapkan sistem perdagangan karbon dengan sektor yang paling umum tercakup adalah transportasi darat dan pembangkit listrik.

“Secara global permintaan akan Electric Vechicle (EV)/kendaraan listrik, yang menghasilkan emisi lebih rendah atau bahkan 0, meningkat dengan tajam bahkan di saat pandemi. Contohnya, permintaan EV Eropa meningkat lebih dari 100 persen di tahun 2020,” sebutnya.

Selain itu, pengembangan ekosistem EV dalam negeri juga akan terus didorong pemerintah, mulai dari manufaktur baterai termasuk cell, module, pack, recycling baterai, sampai produksi kendaraan EV.

Pembuatan komponen baterai dan kendaraan EV pun akan mengandalkan komoditas andalan Indonesia seperti nikel, tembaga, aluminium, dan timah.

Sejalan dengan target mengenai perubahan iklim, Menko Luhut menyampaikan, produksi EV diharuskan untuk bersifat rendah emisi, sehingga pembangkit listrik yang digunakan pun harus merupakan energi baru terbarukan (EBT).

"Sehingga, jelas bahwa diperlukan ahli teknologi yang tidak hanya paham mengenai sumber daya mineral Indonesia, namun juga memahami isu lingkungan dan arah pengembangan ke depan," tambahnya.

Dengan target industrialisasi Indonesia, Indonesia saat ini diperkirakan kekurangan kurang lebih 100.000 sarjana teknik yang siap dipakai oleh industri.

Dalam akhir sambutannya, Menko Luhut menyampaikan, "Saya berharap forum ini dapat melahirkan banyaknya ahli teknologi yang dapat memenuhi kebutuhan tersebut".

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel