Menko Luhut Pamerkan Proyek Food Estate Indonesia di Forum Internasional

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Indonesia turut berpartisipasi dalam Leaders Summit on Climate (LSC) yang diselenggarakan pada 22 hingga 23 April 2021 yang dihadiri pemimpin dari 40 negara.

Forum ini digelar untuk membahas kesiapan negara-negara menghadapi perubahan iklim yang ekstrim, dimana emisi gas rumah kaca (GRK) begitu tinggi dan menciptakan dampak iklim bagi berbagai negara-negara di dunia.

Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan selaku salah satu pembicara dalam forum ini menyampaikan beberapa paparan nasional terkait penjagaan kenaikan suhu global. Menurut Menko Luhut, Indonesia memiliki area perhutanan seluas 94.1 juta hektar atau 50.1 persen dari total luas daratan yang ada.

"Sektor kehutanan memberikan kontribusi 17,2 persen dari 29 persen target NDC kami,” kata Menko Luhut dalam keterangannya, Jumat (23/4/2021).

Menurutnya, Indonesia telah mengambil beberapa langkah perbaikan untuk mengurangi emisi dari deforestasi dan telah berusaha meningkatkan stok karbon melalui sejumlah aksi rehabilitasi hutan dan lahan.

"Presiden Jokowi telah mengeluarkan Keputusan Presiden, agar secara permanen membekukan izin baru untuk penebangan dan pemanfaatan lahan gambut sejak 2019," papar Menko Luhut.

Laju deforestasi Indonesia tercatat telah menurun tajam dalam beberapa periode terakhir, dan pada tahun 2020 penurunannya mencapai 75 persen. Indonesia juga telah melakukan berbagai aksi untuk mengurangi kebakaran hutan dan lahan.

Strategi yang juga melibatkan berbagai komunitas masyarakat ini telah melatih 12.994 orang untuk menjadi Brigade Pemadam Kebakaran Hutan untuk mengontrol dan menghilangkan berbagai titik api dan kebakaran.

"Indonesia menyimpan hampir 17 persen total karbon biru, dimana angka ini tidak dapat dianggap sebelah mata. Program rehabilitasi hutan mangrove terus digencarkan di berbagai daerah di Indonesia," lanjutnya.

Dengan total luas 3,31 juta area hutan mangrove, dijelaskan Luhut, program ini tidak hanya memiliki dampak ekonomi tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Food Estate

Gubernur Nusa Tenggara Timur Viktor Bungtilu Laiskodat didampingi Bupati Sumba Tengah Paulus Limu ,Wakil Bupati Sumba Tengah dan PJ. Buapti Sumba Barat melakukan panen padi di lokasi Program Food Estate di desa Wailawa, Kecamatan Katikutana Selatan, Kabupaten Sumba Tengah.
Gubernur Nusa Tenggara Timur Viktor Bungtilu Laiskodat didampingi Bupati Sumba Tengah Paulus Limu ,Wakil Bupati Sumba Tengah dan PJ. Buapti Sumba Barat melakukan panen padi di lokasi Program Food Estate di desa Wailawa, Kecamatan Katikutana Selatan, Kabupaten Sumba Tengah.

Selain tindakan mitigasi kebakaran hutan dan lahan serta program rehabilitasi mangrove, Indonesia juga secara aktif terus membangun program Food Estate yang memanfaatkan teknologi hijau dan mengaplikasikan teknologi agrikultur terbaru untuk mengurangi limbah pertanian, penggunaan pupuk yang berlebihan, serta berbagai ancaman lainnya.

"Program ini menghasilkan berbagai peluang pekerjaan, meningkatkan pendapatan masyarakat dan menciptakan pembangunan daerah pedesaan," tegas Menko Luhut.

Adapun, dua wilayah Food Estate yang sedang di kembangkan, yaitu Kalimantan Tengah dan Sumatera Utara telah memperlihatkan berbagai dampak baiknya bagi masyarakat sekitar.

Sebagai penutup, Menko Luhut menegaskan bahwa Indonesia akan memprioritaskan perubahan iklim dan mendukung negara berkembang untuk mencapai ambisi iklim global dalam G20 di tahun 2022 dan ASEAN di tahun 2023 yang akan diselenggarakan di Indonesia.

"Kami berharap kedepannya akan tercipta berbagai kolaborasi dengan pihak AS terkait aksi nyata bagi iklim global dan negara-negara G20 serta ASEAN lainnya untuk mencapai tujuan bersama ini," ungkapnya.

Pertemuan yang diadakan selama 2 hari ini diharapkan mampu memberikan solusi nyata bagi perubahan iklim yang tengah melanda. Adapun, Luhut hadir mendampingi Presiden Jokowi bersama beberapa menteri lainnya yaitu Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Menteri Keuangan, dan Menteri ESDM.

LSC sebagai wahana diskusi ini juga menjadi tempat persiapan menuju konferensi PBB Perubahan Iklim (COP 26) pada bulan November 2021 mendatang di Glasgow.

Saksiakn Video Pilihan di Bawah Ini: