Menko Luhut Sebut Tes PCR Jadi Alat Penting Kendalikan Covid-19

·Bacaan 1 menit

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan menjelaskan, tes PCR menjadi salah satu jalan terbaik untuk mencegah masyarakat terpapar virus Covid-19 saat melakukan perjalanan. Oleh sebab itu pemerintah masih menaruh opsi tes PCR untuk syarat perjalanan.

"PCR itu salah satu alat kendali kita untuk mengurangi orang positif (Covid-19) traveling. Itu salah satu kendali kita di samping PeduliLindungi," kata Luhut dalam podcast Deddy Corbuzier, Jakarta, Rabu (10/11/2021).

Mobilitas masyarakat menjadi penentu keberhasilan penanganan pandemi Covid-19. Bila pemerintah membebaskan masyarakat bepergian tanpa pemeriksaan bisa berujung pada meledaknya kembali angka positif Covid-19.

"Semakin bebas-bebasnya tanpa pemeriksaan, makin bebas virus itu menyebar. Delta AY 4.2 itu 15 persen lebih menular," kata dia.

Munculnya varian baru ini membuat efikasi vaksin yang sudah bisa menurun. Terlebih setelah 6 bulan vaksin disuntikkan mengalami efeknya menurun."Vaksin itu tidak ada yang efikasinya sampai 100 persen, bahkan setelah 6 bulan menurun," kata dia.

"Saya bulan Maret (divaksin), ini sudah 7 bulan, uni sudah turun (efikasi), mestinya ini sudah booster, tapi kita tunggu aturannya," tambah Luhut Binsar Pandjaitan.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Gelombang Ketiga

Tenaga kesehatan bersiap mengambil sampel lendir untuk tes usap PCR drive thru di halaman Rumah Sakit Pertamina Jakarta (RSPJ), Rabu (6/1/2021). Kegiatan tes usap drive thru di RSPJ digelar setiap hari mulai pukul 08.00 WIB- 16.00 WIB dengan tarif Rp900 ribu per orang. (merdeka.com/Iqbal Nugroho)
Tenaga kesehatan bersiap mengambil sampel lendir untuk tes usap PCR drive thru di halaman Rumah Sakit Pertamina Jakarta (RSPJ), Rabu (6/1/2021). Kegiatan tes usap drive thru di RSPJ digelar setiap hari mulai pukul 08.00 WIB- 16.00 WIB dengan tarif Rp900 ribu per orang. (merdeka.com/Iqbal Nugroho)

Terlebih saat ini belum ada negara yang mampu mengontrol varian delta. Sehingga sangat perlu untuk semua pihak lebih berhati-hati dan disiplin.

Luhut juga menyebut tidak menutup kemungkinan penyebaran virus gelombang ketiga. Apalagi setiap ada perayaan hari besar keagamaan kasus Covid-19 mengalami peningkatan karena mobilitas masyarakat yang tidak terkendali.

"Sangat mungkin (gelombang ketiga) kalau kita enggak disiplin, makanya semua hari besar agama dan lain-lain itu pasti ada ujungnya naik karena kita tidak cukup disiplin," kata dia.

Reporter: Anisyah Al Faqir

Sumber: Merdeka.com

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel