Menko PMK resmikan Museum Muhammadiyah di UAD Yogyakarta

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) RI Muhadjir Effendy bersama Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir meresmikan Museum Muhammadiyah yang dibangun di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

"Bagus, walaupun Museum Muhammadiyah ini mungil, tidak terlalu besar bangunannya, tetapi cukup representatif," kata Muhadjir usai peresmian sekaligus meninjau koleksi Museum Muhammadiyah di UAD Yogyakarta, Senin.

Baca juga: Presiden resmikan pembangunan Museum Muhammadiyah

Menurut Menko PMK, setelah Museum Muhammadiyah tersebut terbangun di kompleks perguruan tinggi Muhammadiyah di Yogyakarta, tugas berikutnya dari pihak Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah dan kampus yang mengembangkan.

"Bagaimana supaya nanti terus tumbuh museum ini seiring dengan pertumbuhan Muhammadiyah, dan ini banyak artefak yang belum terkumpul," katanya.

Menteri mengatakan kalau museum sudah dicanangkan dan diresmikan, pasti nantinya banyak yang setor artefak lama, apalagi Muhammadiyah itu termasuk organisasi yang rajin mendokumentasi maupun mengawetkan sesuatu yang kira-kira memiliki nilai sejarah.

"Biasanya di daerah pasti banyak, tadi Pak Haedar (Ketum PP Muhammadiyah) sudah menyampaikan ada mimbar, ada podium dari tahun 1934. Jadi, tidak banyak di Indonesia organisasi yang memelihara tradisi, memelihara artefak," katanya.

Sementara itu, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir mengatakan isi dan koleksi dari Museum Muhammadiyah dalam gedung tiga lantai tersebut berlapis-lapis, yang pertama sejarah perjalanan Muhammadiyah generasi awal di era Ahmad Dahlan.

Kemudian, lanjut Haedar, perkembangan lembaga-lembaga pendidikan organisasi Muhammadiyah dan organisasi ortonom termasuk Hizbul Wathon (HW), yang melahirkan tokoh perjuangan dan pahlawan bangsa, yaitu Soedirman.

"Kemudian, ada Aisyiyah, salah satu inisiator kongres perempuan pertama, jadi kesadaran tentang hak perempuan boleh sekolah, boleh jadi dokter, jadi pendakwah, bahkan belakangan menjadi pemimpin itu Aisyiyah, ikut berkontribusi sejak awal," katanya.

Baca juga: Tim Museum Muhammadiyah studi banding ke Malaysia

Baca juga: Ziarah ke mata air bangsa sebelum masuk kotak suara

Selain itu, kata dia, meski masih dalam penyempurnaan terdapat diorama-diorama yang menggambarkan suatu pemandangan atau peristiwa sejarah yang ada keterkaitan dengan Muhammadiyah.

Sementara itu, Rektor UAD sekaligus Ketua pembangunan Museum Muhammadiyah, Muchlas MT mengatakan museum yang dibangun atas bantuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan persyarikatan dan menjadikan museum sebagai media memajukan peradaban semesta.

"Terima kasih atas kepercayaan yang telah diberikan, kami meneguhkan komitmen untuk terus merawat aset Muhammadiyah ini dan terus mengembangkan serta mengelolanya secara profesional," katanya.