Menko PMK sebut penanganan gempa Cianjur dilakukan secara paralel

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy menyatakan bahwa penanganan pascagempa magnitudo 5,6 di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, dilakukan secara paralel.

"Berdasarkan kesepakatan antarkementerian dan lembaga telah disepakati bahwa untuk penanganan ini dilakukan secara paralel," kata Muhadjir Effendy dikonfirmasi di Jakarta, Selasa.

Muhadjir mengatakan penanganan gempa secara paralel dimulai dari tahap tanggap darurat hingga tahap rehabilitasi dan rekonstruksi.

Pemerintah, kata dia, terus melakukan upaya yang optimal selama tahap tanggap darurat bencana gempa bumi Cianjur.

"Pemerintah juga telah mengalokasikan dana siap pakai biaya tidak terduga dari pemerintah kabupaten sebesar Rp5 miliar, sementara dari pemerintah provinsi sebesar Rp20 miliar. Selain itu, dana yang bersifat elastis yang sesuai kebutuhan juga dialokasikan BNPB," katanya.

Baca juga: Kemenko PMK: Kesehatan pengungsi jadi prioritas

Baca juga: Menko PMK sebut gempa susulan di Cianjur semakin melemah

Pada saat ini, kata dia, BNPB telah mengalokasikan Rp500 juta untuk konsumsi dan Rp1,5 miliar untuk operasional.

Muhadjir juga menambahkan bahwa pemerintah melalui BNPB dan Kemensos telah menyediakan tenda darurat yang layak dengan keperluan logistik yang lengkap berikut dengan dapur umum di posko-posko pengungsian.

Pemerintah melalui BNPB dan Basarnas, kata dia, juga menyediakan helikopter untuk antisipasi evakuasi dari wilayah yang sulit dijangkau menggunakan jalur darat.

"Jadi Insya Allah semuanya akan bisa tertangani dengan baik," katanya.

Gempa bumi dengan magnitudo (M) 5,6 berpusat di darat 10 km barat daya Kabupaten Cianjur Provinsi Jawa Barat, terjadi pada Senin (21/11), pukul 13.21 WIB.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan kekuatan gempa yang diukur dengan skala MMI atau modified Mercalli intensity, wilayah Cianjur V-VI MMI, Garut dan Sukabumi IV – V MMI, Cimahi, Lembang, Kota Bandung Cikalong Wetan, Rangkasbitung, Bogor dan Bayah III MMI, Rancaekek, Tangerang Selatan, DKI Jakarta dan Depok II – III MMI.

Berdasarkan kajian inaRISK, sebanyak 32 kecamatan di Kabupaten Cianjur memiliki potensi bahaya gempa bumi dengan kategori sedang hingga tinggi.

Baca juga: Menko PMK: Prioritaskan penanganan warga yang terdampak gempa

Baca juga: Menko PMK tinjau lokasi insiden atap ambruk SD Muhammadiyah Bogor