Menko Polhukam: Tidak Ada Peningkatan Status Papua

Jakarta (ANTARA) - Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Djoko Suyanto mengatakan bahwa tidak ada peningkatan status ataupun penambahan pasukan di Papua pascapenyerangan yang menyebabkan gugurnya delapan prajurit TNI dan empat warga sipil.

"Tidak ada peningkatan status apapun di wilayah Papua, akan tetapi operasi penegakan hukum di negara manapun dalam keadaan tertib sipil, di Indonesia dan di belahan negara manapun tetap harus ditegakkan," kata Menko Polhukam di Kantor Presiden, Jakarta, Jumat, seusai rapat terbatas terkait gugurnya delapan prajurit TNI.

Djoko mengatakan bahwa penegakan hukum itu tetap harus selaras dengan koridor hukum dan ketentuan yang berlaku.

"Di negara manapun tidak boleh ada pembiaran-pembiaran seperti itu. Harus ada penegakan hukum yang berlaku, dan segala sesuatunya harus disamakan dengan kondisi lapangan," katanya.

Menurut Menko Polhukam, penegakan hukum harus dilaksanakan dengan tegas untuk mengetahui siapa pelaku penyerangannya.

"Tapi kita menghindari hal-hal yang kontra produktif. Ini adalah pesan Presiden. Justru tindakan-tindakan itu akan memperkeruh nanti," katanya.

Sekalipun menegaskan bahwa tidak ada penambahan pasukan, namun Djoko mengatakan tidak tertutup kemungkinan jika terjadi penambahan peralatan.

"Itu nanti akan ada evaluasi, dan nanti akan ada dari TNI dan Polri," katanya.

Pada kesempatan itu, Menko Polhukam juga menjelaskan adanya asumsi bahwa penyerangan di Distrik Sinak terkait dengan pemilihan kepada daerah Kabupaten Puncak.

Ia menilai bisa saja terjadi dampak-dampak yang ditimbulkan oleh kelompok yang menang dan kalah.

Sementara itu untuk penyerangan di Distrik Tingginambut, Kabupaten Puncak Jaya, menurut Djoko, bisa jadi disebabkan oleh pihak-pihak yang tidak senang dengan pembangunan pos penjagaan TNI/Polri baru di kawasan tersebut.


Sebelumnya, Menko Polhukam menyebutkan, penyerangan dan penghadangan oleh kelompok bersenjata di Distrik Tingginambut, Kabupaten Puncak Jaya dan Distrik Sinak, Kabupaten Puncak, Papua, menyebabkan delapan orang anggota TNI gugur.

Pertama, peristiwa penyerangan terhadap pos Satgas TNI di Distrik Tingginambut, Kabupaten Puncak Jaya oleh kelompok bersenjata sekitar pukul 09.30 WIT, sehingga menyebabkan satu orang anggota TNI bernama Pratu Wahyu Bowo gugur karena mengalami luka tembak dibagian dada dan leher.

Peristiwa kedua, terjadi sekitar pukul 10.30 WIT, di mana terjadi penghadangan dan penyerangan oleh kelompok bersenjata di Kampung Tanggulinik, Distrik Sinak, Kabupaten Puncak terhadap 10 anggota Koramil Sinak, Kodim 1714/Puncak Jaya, yang sedang menuju Bandara Sinak untuk mengambil logistik dan radio kiriman dari Nabire. Peristiwa penyerangan itu menyebabkan tujuh orang gugur.

Ketujuh korban yang gugur adalah Sertu Ramadhan, Sertu M Udin, Sertu Frans, Sertu Edi, Praka Jojon, Praka Wemprik dan Pratu Mustofa.(ar)

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.