Menkominfo: Sektor Informasi dan Komunikasi Tumbuh Positif di Tengah Pandemi

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Pandemi mendorong masyarakat Indonesia bermigrasi ke ruang digital. Menkominfo Johnny G. Plate pun menyebut, pemerintah berupaya mengelola akselerasi transformasi digital nasional untuk pertumbuhan ekonomi nasional.

Ia menyebut, pandemi telah jadi blessing in disguise untuk sektor informasi dan komunikasi, hal ini terbukti dari tumbuhnya ekonomi di sektor infokom selama 2021.

"Pada 2021, sektor informasi dan komunikasi tumbuh positif berturut-turut, yaitu 8,72 persen, 6,87 persen, dan 5,51 persen year on year," kata Johnny G. Plate dalam Webinar Retrospeksi 2021 dan Outlook 2022.

Perlunya migrasi aktivitas fisik ke digital menurut Johnny, perlu dibarengi dengan pembangunan infrastruktur telekomunikasi.

Ia menyebut, Kemkominfo melaksanakan arahan presiden untuk memastikan transformasi digital dilaksanakan dengan baik. Hal ini pun pada gilirannya akan mendorong kemampuan dan resiliensi negara ke era digital.

Johnny juga merinci apa saja yang telah dilakukan Kemkominfo sepanjang 2021 ini, salah satunya dalam pembangunan infrastruktur digital.

"Akselerasi transformasi digital dilakukan di semua level dan layer, Kemkominfo harus mengakselerasi di semua aspek, termasuk di ICT infrastructure, pada sisi paling hulu dengan penggelaran fiber optik jaringan tulang punggung nasional," kata Johnny.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Pembangunan Fiber Optik

Rencana pembangunan proyek Palapa Ring Integrasi yang menghubungkan tiga paket Palapa Ring (Foto: Presentasi Dirut BAKTI Anang Latif).
Rencana pembangunan proyek Palapa Ring Integrasi yang menghubungkan tiga paket Palapa Ring (Foto: Presentasi Dirut BAKTI Anang Latif).

Dalam penggelaran fiber optik ini, Kemkominfo pada 2021 membangun 359 ribu Km fiber optik di darat dan laut, termasuk Palapa Ring sepanjang 12.399 Km. Namun hal tersebut masih belum cukup.

"Kita butuh penggelaran jaringan fiber optik di darat dan laut untuk menghubungkan titik-titik yang belum terkoneksi, yakni pembangunan sepanjang 12.083 Km, sebagai ekstensi dari Palapa Ring (Proyek ini bernama Palapa Ring integrasi)," kata Johnny.

Dengan pembangunan ekstensi ini, penggelaran fiber optik memungkinkan utilisasi infrastruktur tulang punggung menjadi lebih baik.

Johnny mengibaratkannya dengan pembangunan bendungan besar, di mana setelah membangun bendungan besar perlu juga ditambah dengan saluran primer dan dilanjutkan dengan saluran sekunder dan tersier. Dengan begitu, air bisa mengalir hingga sawah-sawah.

"Demikian juga dengan telekomunikasi, pembangun jaringan tulang punggung harus selesai dari ujung ke ujung, kalau tidak, utilisasinya tidak akan optimal. Saat ini Kemkominfo harus melengkapi (pembangunan Palapa Ring Integrasi) sepanjang 12.083 Km. Kita tidak bisa menunggu operator seluler membangun karena waktunya entah kapan," katanya.

Dia menargetkan agar pembangunan fiber optik integrasi ini bisa selesai pada 2022, sehingga total kabel fiber optik yang akan melengkapi hampir 370 ribu Km baik di darat maupun laut.

Satelit

Penandatanganan MoU tentang konstruksi satelit Satria oleh PSN dan pihak Thales Alenia Space selaku kontraktor satelit (Foto: Livestreaming Mou)
Penandatanganan MoU tentang konstruksi satelit Satria oleh PSN dan pihak Thales Alenia Space selaku kontraktor satelit (Foto: Livestreaming Mou)

Tidak cukup dengan membangun fiber optik, pemerintah melalui Kemkominfo juga mengisi kebutuhan middle mile, termasuk dengan satelit.

Johnny menyebut saat ini Indonesia memiliki 9 satelit yang memberikan total kapasitas 50Gbps. Dari jumlah tersebut Kemkominfo menggunakan 27,58Gbps, jumlah tersebut dinilai kurang.

Oleh karenanya ke depan Kemkominfo tengah mengembangkan Satelit Satria 1 yang akan menyediakan kapasitas transport 150Gbps. Menurut Johnny, Satria bakal mulai beroperasi pada kuartal 4 2023.

Ke depannya pemerintah juga memiliki roadmap untuk menyediakan kapasitas transport sebesar total 1.000Gbps. Artinya, masih banyak kapasitas yang perlu dipenuhi.

"Kami tengah menyusun dan menyiapkannya, dengan harapan sampai tahun 2024, nanti kebutuhan satelit kita menjadi lebih baik," katanya.

Makin banyak kapasitas yang dibutuhkan, makin besar pula kapasitas satelit yang harus dipenuhi. Hal ini tidak terelakkan. Meski begitu, Johnny menyebut, ada dua keuntungan yang dapat diambil dari satelit, yakni memperlebar titik layanan dan meningkatkan kecepatan satelit.

BTS 4G

Telkomsel memastikan seluruh BTS USO di wilayah 3T telah terhubung jaringan 4G (Foto: Telkomsel)
Telkomsel memastikan seluruh BTS USO di wilayah 3T telah terhubung jaringan 4G (Foto: Telkomsel)

Kemkominfo juga terus menyediakan akses konektivitas internet cepat 4G di seluruh desa atau kelurahan.

Johnny mengungkap, dari 82.218 desa atau kelurahan di Indonesia, masih ada 12.548 desa dan kelurahan yang belum dijangkau layanan 4G.

Untuk itu, Kemkominfo bersama BAKTI membangun bertanggung jawab membangun BTS 4G di 9.113 desa/kelurahan yang termasuk ke wilayah 3T (terluar, terdepan, tertinggal) dan menargetkan kelar pada 2022.

Sementara sisanya yakni 3.435 desa atau kelurahan di luar wilayah 3T diserahkan pembangunannya pada operator selular. Diharapkan pembangunan ini juga selesai pada 2022.

(Tin/Isk)

Infografis Era Teknologi 5G di Indonesia

Infografis Era Teknologi 5G di Indonesia (Liputan6.com/Triyasni)
Infografis Era Teknologi 5G di Indonesia (Liputan6.com/Triyasni)
Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel