Menkop Teten soal Dampak Harga BBM ke UMKM: Ini Proses Bisnis Biasa

Merdeka.com - Merdeka.com - Pemerintah berencana untuk menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk menahan penyaluran subsidi yang kian membengkak. Subsidi energi, termasuk subsidi BBM saat ini tercatat sudah mencapai Rp502 triliun.

Rencana kenaikan BBM akan dirasakan langsung oleh masyarakat, terutama para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).

Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki mengatakan, ini bukan pertama kalinya para UMKM menghadapi krisis, kenaikan BBM dan lainnya.

Teten sangat optimis para pelaku UMKM mempunyai daya resiliensi yang luar biasa. "Ini kan bukan hal yang baru, ini proses bisnis biasa," ucap Teten di Gedung SMESCO, Jakarta, Kamis (1/9).

Di sisi lain, pemerintah juga sedang mempersiapkan berbagai antisipasi terhadap inflasi yang terjadi di tengah ketidakpastian global.

"Karena ini bukan hanya di Indonesia, ini di seluruh dunia, kita masih cukup baik, inflasi kita masih di bawah angka pertumbuhan ekonomi," jelas Teten.

Sebagai informasi, dari rencana kenaikan harga BBM pemerintah akan menggelontorkan bantuan subsidi upah (BSU) untuk 16 juta pekerja bergaji maksimal Rp3,5 juta yang akan dicairkan pada bulan September yakni Rp 600.000.

UMKM Jangan Minta Hibah

Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki menekankan kepada Para Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) untuk jangan meminta hibah alat ataupun modal usaha.

Teten menjelaskan, lebih baik para UMKM membuat perencanaan bisnis yang matang, karena masih banyak UMKM menurutnya belum memiliki perencanaan bisnis yang matang.

"Banyak para investor yang mau masuk ke UMKM tapi karena perencanaan bisnisnya buruk banyak mereka mundur," ucap Teten, Jakarta, Kamis (1/9).

Kendati demikian, rencana bisnis sangat dibutuhkan oleh para UMKM sehingga bisnis yang mereka kembangkan akan menarik investor dan mendapatkan pembiayaan yang lebih mudah.

"Saya mendorong para UMKM bukan lagi minta hibah alat, hibah modal kerja, justru saya mendorong UMKM bikin bisnis plan yang benar, kalau mau nambah usaha perlu beli alat dan sebagainya masukan ke dalam rencana bisnis," terangnya.

Untuk mengembangkan kemudahan dalam akses pembiayaan, pihaknya memiliki kur klaster di mana para UMKM yang tergabung dalam klaster nantinya dapat terhubung dengan offtaker.

Sehingga perbankan akan jauh lebih mudah menyalurkan pembiayaannya kepada UMKM. "Ini target kita sekarang UMKM harus punya perencanaan bisnis, supaya mereka sudah siap berkembang," tambahnya. [idr]