Menlu Bahrain Lakukan Kunjungan Bersejarah ke Israel

Renne R.A Kawilarang, DW Indonesia
·Bacaan 1 menit

Menteri Luar Negeri Bahrain Abdullatif Al-Zayani akan melakukan perjalanan ke Israel hari Rabu (18/11) dalam kunjungan bersejarah untuk meresmikan hubungan diplomatik antara kedua negara.

Sumber diplomatik di Bahrain mengatakan, Al-Zayani akan mengadakan pembicaraan dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan melakukan diskusi bilateral dengan para pejabat Israel.

Bahrain dan Israel sepakat untuk menjalin hubungan diplomatik secara formal pada 15 September lalu, melalui penengahan Amerika Serikat. Sebelumnya, Uni Emirat Arab dan Sudan sudah meresmikan hubungan diplomatik dengan Israel.

Bahrain dan UEA sudah menandatangani nota kesepahaman untuk mengatur kerja sama di berbagai bidang termasuk politik, pertanian, perdagangan, teknologi informasi, dan visa.

"Kunjungan itu dilakukan untuk menegaskan posisi jelas dan permanen Bahrain dalam mendukung proses perdamaian di kawasan Timur Tengah, dan untuk membahas peluang ekonomi dan perjanjian bilateral dengan Israel," kata Kantor Berita resmi Bahrain.

Pergeseran paradigma di Timur Tengah

Duta Besar AS untuk Israel David Friedman mengatakan, kebijakan perdamaian melalui penengahan AS "telah mengubah dunia secara mendalam menjadi lebih baik." Dia menambahkan: "Kami melihat paradigma Timur Tengah benar-benar berubah dengan cara yang sangat positif."

Ketika UEA mengumumkan akan menormalisasi hubungan dengan Israel bulan Agustus lalu, negara itu membuka lembaran sejarah baru, mengikuti jejak Mesir dan Yordania pada lebih 20 tahun lalu. Beberapa negara lain di kawasan kemudian mengumumkan akan melakukan langkah serupa memulai hubungan bilateral dengan Israel.

Namun Arab Saudi menyatakan tidak memiliki rencana untuk membuka hubungan diplomatik dengan Israel secara resmi, sekalipun negara itu sekarang akan mengizinkan maskapai komersial Israel untuk menggunakan wilayah udaranya.

Otoritas Palestina dan kelompok Hamas bersama-sama mengecam kesepakatan Bahrain dan Israel sebagai "tikaman dari belakang bagi perjuangan Palestina dan rakyat Palestina."

hp/ha (rtr, dpa)