Menlu G-7 bertikai di tengan pandemi corona

WASHINGTON (AP) - Para menteri luar negeri dari Kelompok 7 negara-negara industri terkemuka, pada Rabu berselisih mengenai apakah akan menyebut China sebagai sumber pandemi virus corona.

Bertemu melalui konferensi video terkait wabah itu, para menteri sepakat tentang perlunya upaya bersama untuk menghentikan penyebaran virus corona baru, yang menyebabkan penyakit yang disebut COVID-19. Namun para diplomat AS dan Eropa itu mengatakan para menteri tidak dapat menyetujui seruan Menteri Luar Negeri Mike Pompeo agar virus tersebut diidentifikasi dengan nama sebagai "virus Wuhan."

Akibatnya, hanya sehari setelah menteri keuangan G-7 dan gubernur bank sentral mengeluarkan komunike bersama yang merujuk pada virus COVID-19, para menteri luar negeri memilih untuk tidak mengeluarkan pernyataan kelompok. Pejabat AS menunjuk pernyataan menteri keuangan pada Selasa untuk membantah kabar adanya perpecahan dalam G-7 dan mengatakan menteri luar negeri tidak pernah berniat untuk merilis komunike mereka sendiri.

Para pejabat Eropa mengatakan Pompeo bersikeras mengidentifikasi virus COVID-19 sebagai "virus Wuhan" meskipun Organisasi Kesehatan Dunia dan yang lainnya telah memperingatkan agar tidak memberikannya nama geografis karena sifat virus yang global. Dalam beberapa minggu terakhir, Pompeo telah meningkatkan penggunaan istilah "virus Wuhan," menuduh China membahayakan dunia dengan tidak mengungkapkan rincian lebih lanjut tentang wabah tersebut, yang pertama kali dilaporkan terjadi di kota Wuhan.

Presiden Donald Trump baru-baru ini sering menyebut virus corona itu sebagai "virus China" atau "virus orang Cina," tetapi sejak awal minggu ini telah menghindari menggunakan istilah-istilah itu karena para kritikus mengatakan itu akan menumbuhkan sentimen dan perilaku diskriminatif terhadap orang Asia dan Asia-Amerika.

Dalam sebuah konferensi pers tunggal setelah pertemuan itu, Pompeo sekali lagi menyebut "virus Wuhan," saat mengatakan itu adalah "agenda yang paling mendesak." Dia mengatakan semua menteri luar negeri telah "berkomitmen untuk memerangi (itu) dengan transparan, karena itu yang diperlukan di seluruh dunia. "

Dia tidak menyangkal ada perselisihan tentang cara menyebut virus, tetapi mengatakan semua menteri telah mengakui bahwa China tidak jujur terkait detailnya sejak awal dan sekarang mencoba untuk mengubah narasi tentang itu.

"Setiap negara di pertemuan itu pagi ini sangat menyadari kampanye disinformasi yang dilakukan oleh Partai Komunis China untuk mencoba dan membelokkan dari apa yang sebenarnya terjadi di sini," kata Pompeo.

Para menteri luar negeri lainnya hampir tidak sekeras itu dalam komentar mereka sendiri tentang pertemuan itu, dengan setidaknya satu orang menyampaikan bahwa China bukan satu-satunya negara yang mencoba menggunakan wabah untuk memajukan poin-poin politik.

Menteri Luar Negeri Prancis Yves Le Drian mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa ia telah “menggarisbawahi kebutuhan untuk memerangi setiap upaya untuk mengeksploitasi krisis untuk tujuan politik dan menyatakan pandangan bahwa persatuan seluruh pihak untuk secara efektif memerangi pandemi sekarang harus diutamakan daripada pertimbangan lain. "

Ketidaksepakatan tentang terminologi virus pertama kali dilaporkan oleh media Jerman Der Spiegel. Para pejabat Jerman mengatakan mereka lebih khawatir tentang apa yang akan dihasilkan dari pertemuan puncak virtual para pemimpin negara-negara Kelompok 20 yang seharusnya diadakan pada Kamis atas permintaan Arab Saudi.

Sementara itu para pejabat AS mengabaikan ketidaksepakatan di antara para menteri luar negeri dan merunjuk pada pernyataan menteri keuangan G-7 mulai Selasa yang tidak menyebutkan "Wuhan" atau "China" dalam kaitannya dengan virus dan sebaliknya menyebutnya berulang kali sebagai COVID -19.