Menlu AS ingatkan bahaya China dan Rusia

Oleh AFP

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengeluarkan peringatan keras kepada China dan Rusia menjelang ulang tahun ke-30 runtuhnya Tembok Berlin. Dia mendesak negara-negara Barat membela kebebasan yang dimenangkan dengan susah payah.

"Negara-negara Barat yang bebas bertanggung jawab mencegah ancaman terhadap rakyat kita," dari pemerintah-pemerintah seperti China, Rusia dan Iran, kata Pompeo, yang berbicara hanya beberapa meter dari Tembok Berlin yang melewati Gerbang Brandenburg yang terkenal di dunia di, ibu kota Jerman itu.

AS dan sekutu-sekutunya harus "membela apa yang susah payah diraih ... pada 1989" dan "mengakui kita berada dalam persaingan nilai-nilai dengan negara-negara yang tidak bebas," tambah dia.

Kunjungan Pompeo diadakan pada saat Jerman bersiap menandai tiga dekade runtuhnya Tembok Berlin pada 9 November 1989, yang akhirnya memuncak kepada keruntuhan rezim komunis Jerman Timur.

Menyoroti titik menyakitkan dalam hubungan Washington dengan Berlin saat ini, Pompeo mengatakan membela demokrasi liberal jadalah uga berarti mencegah "pasokan energi Eropa ... (dari) tergantung kepada kemauan (Presiden Rusia Vladimir) Putin" melalui pipa gas Nord Stream 2 dari Rusia ke Jerman yang sedang dibangun.

Kanselir Angela Merkel telah berulang kali mengatakan jalur pipa itu murni urusan bisnis.

Pompeo juag memperingatkan "itikad perusahaan China dalam membangun jaringan 5G", setelah pemerintah Jerman gagal mengecualikan raksasa teknologi Huawei dari infrastruktur jaringan seluler generasi berikutnya.

Sekalipun Huawei menjadi pemimpin dunia dalam teknologi 5G, AS dan lainnya termasuk badan keamanan Jerman sendiri sudah mengingatkan bahwa perusahaan itu dekat dengan Beijing.

Tetapi khawatir bertikai dengan China - mitra dagang terbesar Jerman - Berlin bulan lalu hanya mengatakan akan ada "standar tinggi" untuk keamanan pada jaringan baru itu.

Pompeo sedang dalam tur dua hari ke Jerman di mana ia kembali mengunjungi tempat dia pernah mengemban tugas militer semasa Perang Dingin di bekas perbatasan Tirai Besi itu dan dijadwalkan bertemu dengan para pemimpin termasuk Merkel.

Sementara di Eropa, dia telah berupaya menopang hubungan trans-Atlantik yang terkikis konflik dagang dan perselisihan akibat krisis geopolitik dan belanja militer.