Menlu Retno: Setop Politisasi dan Nasionalisme Vaksin

Ezra Sihite, Dinia Adrianjara
·Bacaan 1 menit

VIVA – Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi meminta negara-negara di dunia untuk menghentikan politisasi dan nasionalisme vaksin. Ia menegaskan vaksin adalah sebuah isu kemanusiaan.

"Hentikan politisasi vaksin dan hentikan nasionalisme vaksin. Vaksin adalah isu kemanusiaan dan bukan isu politis. Saya berharap multilateralisme vaksin dapat berhasil," kata Retno saat berbicara sebagai panelis dalam salah satu diskusi World Economic Forum.

Pada pertemuan itu, Menlu Retno mengangkat dua isu penting yakni peran barunya sebagai Ketua Bersama di COVAX Advance Market Commitment Engagement Group (COVAX AMC EG) dan perkembangan geopolitik di Asia Pasifik di tengah meningkatnya rivalitas dunia.

Retno kembali menekankan pentingnya akses vaksin yang setara. Akses vaksin itu bukan saja bermanfaat bagi negara berkembang dan negara maju, namun juga bagi seluruh dunia untuk segera keluar dari pandemi.

Terkait hal ini ada tiga tantangan untuk implementasi kesetaraan vaksin bagi semua yakni pertama, kepastian ketersediaan vaksin. Ketersediaan ini sangat ditentukan oleh kolaborasi dengan para pengembang vaksin.

Tantangan kedua yaitu ketercukupan ketersediaan dana. Perlu adanya dukungan pendanaan negara donor, lembaga keuangan internasional dan filantropis.

"Ketiga, perlu kesiapan negara berkembang untuk menerima vaksin baik dari aspek infrastruktur maupun regulatorinya," ujar Retno.

Sebagai ketua bersama COVAX AMC, Menlu menggarisbawahi pentingnya transparansi proses, kepastian perolehan vaksin dan solidaritas kerja sama internasional sebagai prioritas kepemimpinan AMC-EG.

"Indonesia akan berkontribusi dalam mengawal pembahasan strategi, kebijakan, dan kinerja COVAX Facility untuk memastikan tercapainya penyediaan pasokan dan distribusi vaksin COVID-19 dengan cepat dan serentak bagi negara AMC secara gratis, aman dan efektif," ungkapnya.

Pada forum yang digelar secara virtual tersebut merupakan rangkaian dari Davos Agenda Week yang menghadirkan berbagai tokoh penting dunia dari kalangan pemerintah maupun bisnis.