Menlu Retno Tegaskan Kesetaraan Akses Vaksin Jadi Jalan Keluar dari Pandemi COVID-19

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi, kembali memimpin Pertemuan COVAX AMC Engagement Group (AMC EG) secara virtual bersama dengan Menteri Kesehatan Ethiopia Lia Tadesse dan Menteri Pembangunan Internasional Kanada Karina Gould.

Dalam pembukaan, Menlu Retno sampaikan bahwa sejak pertemuan terakhir pada bulan Januari 2021, telah terjadi perkembangan sangat positif yang menimbulkan harapan, namun terdapat pula tantangan dan dinamika yang perlu terus ditangani bersama dengan baik.

“Sejak pertemuan yang lalu, kita menyaksikan perkembangan yang signifikan dimana program vaksinasi telah dimulai setidaknya di 131 negara dan Covax telah mengirim lebih dari 28.3 juta ke lebih dari 46 negara. Semua ini memberikan harapan. Mari kita terus bekerja sama untuk menjaga momentum ini," ujar Menlu Retno.

Sementara tantangan baru yang dihadapi antara lain munculnya varian baru dan kepastian penjadwalan pengiriman vaksin.

Upaya COVAX

Dosis pertama vaksin COVID-19 AstraZeneca tiba di Indonesia melalui skema COVAX
Dosis pertama vaksin COVID-19 AstraZeneca tiba di Indonesia melalui skema COVAX

CEO dan para pakar dari GAVI dan WHO menyampaikan beberapa hal antara lain, hingga saat ini, Covax Facility telah berhasil memobilisasi dana sebesar USD 6,3 miliar dan telah melakukan kesepakatan dengan perusahaan manufaktur vaksin sebanyak 2.3 miliar dosis hingga tahun 2021. Pertemuan juga membahas proyeksi alokasi vaksin dan waktu pengiriman selanjutnya bagi negara AMC hingga akhir tahun 2021.

Selain itu, terkait dengan mutasi varian baru COVID-19. WHO menyebutkan bahwa mutasi virus adalah sesuatu yang telah diprediksi sejak awal. WHO sampaikan terus memonitor mutasi virus tersebut dan sebut bahwa hasil riset WHO menunjukan bahwa varian tersebut tidak berdampak negatif terhadap keampuhan vaksin yang dikirim melalui COVAX Facility.

Selanjutnya, terkait keputusan beberapa negara untuk menunda pemberian vaksin AstraZeneca khususnya yang diproduksi di Eropa menyusul ditemukannya dampak setelah vaksinasi, WHO sampaikan secara regular melakukan komunikasi dengan berbagai otoritas di Eropa maupun dunia terkait aspek keamanan vaksin COVID-19.

WHO simpulkan bahwa hingga saat ini, nilai manfaat dari vaksin AstraZeneca lebih besar dari resiko yang ditemui. Untuk itu, WHO merekomendasikan vaksinasi dengan AstraZeneca dapat dilanjutkan.

Kemudian, pertemuan tersebut menggarisbawahi pentingnya mengamankan kebutuhan pendanaan COVAX Facility untuk memenuhi kebutuhan vaksin khusus nya bagi negara berkembang dan kurang berkembang. Kampanye untuk mendapatkan dukungan dana tambahan akan terus dilakukan di beberapa pertemuan internasional seperti G-7, G-20, SMU PBB dan pertemuan internasional lainnya.

Fasilitasi COVAX

Gambar ilustrasi menunjukkan botol berstiker
Gambar ilustrasi menunjukkan botol berstiker

COVAX AMC EG merupakan forum antara negara AMC dengan negara-negara donor untuk pengadaan dan distribusi vaksin bagi negara AMC. COVAX Facility memiliki target pengadaan vaksin bagi 20% dari populasi setiap negara AMC dan mendukung kesiapan negara AMC untuk melakukan rencana vaksinasi nasional.

Partisipasi Indonesia pada Covax Facility menjadi penting, salah satunya karena berkontribusi dalam upaya pemenuhan target vaksinasi Indonesia bagi 181,5 juta orang pada Maret 2022.

Indonesia hingga saat ini telah menerima sebanyak 1.113.600 dosis vaksin AstraZeneca dari Covax Facility, yang merupakan bagian dari alokasi putaran pertama pengiriman vaksin AstraZeneca dari skema Covax Facility. Pada alokasi putaran pertama Indonesia akan memperoleh 11.704.800 juta dosis vaksin AstraZeneca yang akan dikirimkan secara bertahap hingga Mei 20​​21.

Simak Video Pilihan Berikut Ini: