Menparekraf: Desa wisata di Tana Toraja dapat jadi daya ungkit ekonomi

·Bacaan 2 menit

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno mengharapkan pemerintah daerah di Desa Kole Sawangan, Tana Toraja, Sulawesi Selatan, mempersiapkan wilayahnya menjadi desa wisata yang dapat menjadi daya ungkit ekonomi melalui terbukanya lapangan kerja.

Sebagai desa wisata rintisan, Kole Sawangan dinilai siap menyambut wisatawan dengan atraksi dan daya tarik yang dimiliki.

"Ini juga karena kerja cepat dari birokrasi Pemerintah Kabupaten Tana Toraja yang sudah mengeluarkan SK (desa wisata) dan mengurus kelengkapan dokumen. Karena desa wisata itu bisa maju kalau dukungannya adalah semua pihak berkolaborasi," kata Menparekraf saat melakukan visitasi ke desa wisata tersebut sebagaimana dalam keterangan pers, di Jakarta, Minggu (21/11).

Desa Wisata Kole Sawangan ditetapkan sebagai salah satu dari 50 desa wisata terbaik di ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021. Kole Sawangan baru mengajukan untuk menjadi desa wisata pada empat bulan lalu.

Kekuatan adat dan budaya menjadi daya tarik utama dari Desa Wisata Kole Sawangan.

Seperti kawasan Toraja pada umumnya, di desa wisata ini wisatawan disebut bisa menemui deretan Tongkonan atau rumah adat orang Toraja yang indah nan megah. Tongkonan merupakan rumah panggung tradisional masyarakat Toraja berbentuk persegi empat panjang.

Di Kole Sawangan wisatawan dapat melihat salah satu Tongkonan tertua di Toraja. Tongkonan tersebut awalnya dibangun pada tahun 1200 dan beratap batu, namun pada tahun 1939, Tongkonan tersebut terbakar dan baru dipugar 7 tahun kemudian.

Melalui Tongkonan tersebut, wisatawan dikatakan akan mendapatkan gambaran kesahajaan masyarakat Toraja yang sangat menghormati budaya luhur.

Di halaman depan Tongkonan, wisatawan akan disuguhkan kerajinan tenun dan manik-manik yang dikerjakan para wanita. Wisatawan akan lumrah melihat hal ini karena Desa Wisata Kole Sawangan memang merupakan salah satu sentra kerajinan dan ekonomi kreatif.

Selain kain tenun dan manik-manik, masyarakat di dalamnya juga mengembangkan kerajinan anyaman bambu seperti keranjang, nampan, tas, serta alat rumah tangga lainnya.

Tidak hanya itu, di Desa Wisata Kole Sawangan juga terdapat kuburan batu Saluliang. Ini dianggap merupakan salah satu kuburan batu tertua di Toraja, yakni sejak tahun 1215 dan masih digunakan sampai saat ini.

Wisatawan yang datang ke desa wisata ini juga dapat melihat berbagai seni seperti tarian Pa'gellu, yakni tarian sukacita yang biasa dipentaskan pada upacara adat di Toraja, Sulawesi Selatan yang sifatnya riang gembira.

Serta terdapat produk Kopi Pokko yang merupakan produk kopi kemasan jenis arabika yang ditanam langsung di kebun-kebun kopi rumah warga dan di-roasting dengan alat tradisional sehingga memiliki cita rasa yang khas.

Dengan berbagai potensi tersebut, lanjutnya, Desa Wisata Kole Sawangan sangat layak untuk menjadi destinasi unggulan.

"Oleh karena itu kami akan menggagas bersama dengan para pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif, tahun depan satu event internasional yang menandakan perjalanan kembali Toraja sebagai destinasi unggulan kedua setelah Bali," kata Sandiaga.

Selain itu, ia mengatakan bahwa ADWI bertujuan menggerakkan ekonomi secara berkeadilan di desa-desa yang sangat membutuhkan sentuhan. "Oleh karena itu ADWI ini memiliki tema Indonesia Bangkit," kata Sandiaga.

Baca juga: Presiden bersyukur akhirnya Bandara Toraja rampung dan diresmikan
Baca juga: Festival Internasional Toraja digelar virtual 19 Desember
Baca juga: Menhub: Peresmian dua bandara dukung sektor pariwisata

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel