Menparekraf dorong desa wisata di Riau ekspor olahan ikan patin

·Bacaan 3 menit

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno mendorong agar Desa Wisata Koto Mesjid, Kabupaten Kampar Riau untuk mengekspor produk olahan ikan patin yang menjadi ikon desa tersebut.

Hal tersebut disampaikan Sandiaga Uno dalam tahapan visitasi dan penilaian terhadap 50 desa wisata terbaik di Ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021. Desa Wisata Koto Mesjid merupakan desa pemekaran dari Desa Pulau Gadang pada tahun 1999.

Desa ini lebih dikenal dengan sebutan Kampung Patin lantaran memiliki budidaya ikan patin yang luar biasa. Maka dari itu desa ini mempunyai moto ‘tiada rumah tanpa kolam' dan hampir setiap rumah yang ada di Kampung Patin memiliki paling tidak satu kolam patin. Dalam sebulan masyarakat setempat dapat memanen 390 hingga 400 ton ikan patin.

“Hari ini kita melihat bahwa Desa Wisata Koto Mesjid sudah menjadi inspirasi, sudah menjadi satu semangat kita semua. Ini adalah simbol kebangkitan ekonomi nasional. Dan hari ini kita canangkan patin harus 'go internasional' menggantikan salmon. Karena ikan patin Indonesia memiliki kualitas yang baik dan bergizi tinggi, terutama di Provinsi Riau dibandingkan dengan jenis ikan patin di negara lain,” kata Menparekraf Sandiaga didampingi oleh Direktur Tata Kelola Destinasi Kemenparekraf/Baparekraf, Indra Ni Tua.

Ikan patin di Desa Wisata Koto Mesjid kemudian diolah masyarakat menjadi berbagai macam produk kuliner dengan cita rasa yang unik. Seperti kerupuk kulit patin, abon patin, bakso patin, siomay patin, nuget patin, otak-otak patin, cilok patin, ikan asin patin, batagor patin, hingga es dawet patin, serta ada pula keripik batang pisang, dan kelapa jelly (dekla).

Tidak hanya itu, produk ekonomi kreatif di Kampung Patin ini juga sangat menarik. Misalnya saja produk kriya dari hasil olahan bambu, seperti rotan, dan pandan. Bahkan teman difabel (tuna rungu) juga ikut serta dalam mengolah produk kriya olahan bambu lidi rotan.

Yang tidak kalah menarik, Desa Wisata Koto Mesjid ini memiliki program "home recycle creative", di mana produk-produk ekonomi kreatifnya memanfaatkan sampah yang masih layak pakai atau limbah paralon, lalu dibuat menjadi pot, tempat tisu, baki gelas, hiasan dinding dan piring lidi rotan.

Selain mengurangi sampah juga untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. Ada pula produk fesyen yang dihasilkan, yakni batik khas Kampar, tas rajut, hingga sendal rajut.

Keunggulan lain yang menjadi daya tarik Desa Wisata Koto Mesjid adalah wisata alam dan buatan. Untuk wisata alamnya sendiri terdapat Sungai Kampar, yang menjadi salah satu sungai terpanjang di Riau, dengan panjang 600 kilometer. Ada juga Sungai Gagak, yang memiliki air terjun yang indah serta Lembah Aman dan Talau Pusako.

Kemudian, untuk wisata buatannya terdapat danau atau waduk buatan yang pada tahun 1991 dimanfaatkan untuk Pembangkit Listrik Tenaga Air. Namun kini danau tersebut dijadikan sebagai tempat wisata, karena memiliki pemandangan alam yang sangat cantik seperti di Raja Ampat yang dapat dilihat dari Puncak Kompei, salah satu "spot instagramable" di desa ini.

“Saya berharap di masa pandemi COVID-19 ini akan semakin membuka peluang kita, untuk mencintai destinasi-destinasi wisata khususnya di Riau dengan hashtag KeRiauAja, tidak perlu ke luar negeri, karena jika kangen ke Raja Ampat ada di sini,” katanya.

Bagi wisatawan yang ingin bermalam di Desa Wisata Koto Mesjid tidak perlu khawatir. Karena desa ini memiliki 18 homestay yang diberi nama homestay patin 1 hingga 18. Konsep yang diusung homestay ini yaitu ‘rumah warga’, sehingga wisatawan dapat merasakan seperti tinggal sebagai warga lokal.

Sementara, Gubernur Provinsi Riau, Syamsuar berharap Menparekraf Sandiaga juga dapat mendorong destinasi wisata dan sentra ekonomi kreatif lainnya yang ada di Riau. Itu agar semakin berkualitas dan mampu menarik minat wisatawan baik dari domestik maupun mancanegara.

“Kami sangat berharap dukungan dari Mas Menteri. Apalagi Riau ini berhadapan langsung dengan Malaysia. Seperti Bintan yang berhadapan dengan Singapura,” ujarnya.

Baca juga: Menparekraf ajak netizen beri nama objek wisata Riau mirip Raja Empat
Baca juga: Sandiaga dorong pelaku ekraf Bandung tingkatkan karya melalui AKI
Baca juga: Buku "The 10 New Bali" edisi kedua diluncurkan di Singapura

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel