Menperin: Industri penerbangan tulang punggung transportasi nasional

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menyebut industri penerbangan nasional menjadi tulang punggung transportasi dan konektivitas nasional serta penggerak utama perekonomian Indonesia.

"Kami bersikeras bahwa industri penerbangan kami, yang terdiri dari industri pembuatan pesawat dan komponen, industri Maintenance Repair and Overhaul (atau MRO), dan industri pembuatan drone, lebih dari kompeten dalam memberikan solusi untuk masalah," kata Menperin Agus secara virtual, di Jakarta, Rabu, pada "Seminar of Harnessing The Ecosystem Industry in Indonesia" yang merupakan rangkaian kegiatan G20.

Agus memaparkan usai melewati pandemi COVID-19, jumlah penumpang udara di Indonesia diperkirakan akan tumbuh 30 persen dari tahun ke tahun menjadi 140 juta penumpang dalam beberapa tahun ke depan.

Hal itu menjadikan Indonesia sebagai pasar penerbangan dengan pertumbuhan tercepat kedua di dunia setelah China, berdasarkan pembelian pesawat dan nilai perdagangannya.

Baca juga: Menhub optimis industri penerbangan segera bangkit

Menperin menyampaikan menjadi negara kepulauan terbesar di dunia dengan 17.000 pulau yang membentang 5.150 kilometer dari timur ke barat, transportasi udara adalah cara tercepat untuk bepergian ke daerah-daerah di Indonesia.

International Air Transport Association (IATA), lanjutnya, memperkirakan Indonesia akan menjadi pasar transportasi udara terbesar keenam di dunia pada 2034.

Selama lebih dari dua tahun, perjalanan udara domestik dan internasional hampir terhenti. Dengan pemulihan ekonomi yang sedang berlangsung, industri penerbangan dan kedirgantaraan RI menghadapi tantangan besar.

"Mengaktifkan kembali pesawat yang di-grounded adalah proses yang lambat, sehingga menyulitkan operator Indonesia untuk menambah kapasitas sebagai tanggapan atas pulihnya permintaan," ujar Menperin Agus.

Menperin menyatakan senang melihat tiga perusahaan utama saat ini bekerja pada puncaknya untuk memastikan maskapai di Indonesia kembali mengudara.

Ia menyebut PT Dirgantara Indonesia (Persero), satu-satunya produsen pesawat di Asia Tenggara, telah memproduksi pesawat terbang dan helikopter untuk keperluan komersial dan militer, dengan spesialisasi di bidang aerostruktur.

Baca juga: Bappenas: RI-anggota G20 tanda tangani MoU Kedirgantaraan sore ini

PT Regio Aviasi Industri dengan dukungan pemerintah saat ini sedang mengembangkan pesawat turbo-propeller untuk penerbangan jarak menengah yang sesuai dengan geografi Indonesia dan Asia Tenggara.

Keduanya didukung Indonesia Aircraft Components Manufacturer Association (INACOM). Pudak Scientific yang anggotanya telah berhasil memasuki rantai pasokan internasional pesawat dengan lebih dari 80 persen produknya berorientasi ekspor.

Pemerintah Indonesia melalui Masterplan Pengembangan Industri Nasional 2015 – 2035 menetapkan industri pesawat terbang menjadi salah satu industri prioritas nasional dengan fokus pengembangan pesawat baling-baling, industri komponen, dan industri MRO.

Berbagai kebijakan telah dikeluarkan untuk mendukung pengembangan industri ini seperti insentif fiskal yang terdiri dari tax holiday, tax allowance, investment allowance, super tax deduction, dan pembebasan bea masuk, dan dukungan non-fiskal berupa pembiayaan pemerintah bagi pengekspor dan domestik.

"Pemerintah akan terus memberikan dukungan yang memungkinkan untuk memastikan pertumbuhan dan keberlanjutan industri penerbangan dan kedirgantaraan, termasuk insentif lebih lanjut untuk investasi, di atas yang saya sebutkan," ujar Menperin.

Baca juga: Menhub: Pemulihan industri penerbangan jadi prioritas bersama

Baca juga: Kemenperin upayakan peningkatan TKDN dalam pesawat N-219