Menpora Terus Upayakan Peningkatan Prestasi Cabor Lain di Olimpiade

·Bacaan 2 menit

VIVA – Prestasi Tim Indonesia di Olimpiade Tokyo 2020 secara umum sangat menggembirakan. Turun dengan 28 atlet dari 8 cabang olahraga (cabor), Indonesia berhasil meraih 1 emas, 1 perak, dan 3 perunggu.

Terlebih, terdapat tiga atlet berusia muda yang sukses meraih medali. Mereka adalah Apriyani Rahayu yang berhasil meraih emas ganda putri bulutangkis bersama Greysia Polii di usia 23 tahun.

Dari angkat besi, Widya Cantika Aisah mampu merebut perunggu di kelas -49 kg putri pada usia 19 tahun. Sedangkan, Rahmat Erwin Abdullah juga sukses menyabet perunggu pada nomor -73 kg putra saat umurnya masih 20 tahun.

Akan tetapi, yang menjadi persoalan saat ini, selepas Indonesia meraih medali pertama sepanjang sejarah Olimpiade di Seoul 1988 dari cabor panahan, hanya dua cabor yang konsisten menyumbang medali, yakni bulutangkis dan angkat besi.

Bulutangkis menjadi langganan penyumbang medali bagi Indonesia sejak olahraga ini dipertandingkan secara resmi untuk pertama kalinya di Olimpiade Barcelona 1992. Hanya pada Olimpiade London 2012 saja, bulutangkis gagal menyumbangkan sekeping medali pun bagi Merah-Putih.

Sementara itu, angkat besi selalu rutin memberikan medali bagi Indonesia sejak Olimpiade Sydney 2000.

Atas dasar tersebut, Menteri Pemuda dan Olahraga, Zainudin Amali, mengatakan, bahwa paradigma target Indonesia di Olimpiade harus diubah.

Dia juga menegaskan, jika jumlah medali yang terus menjadi patokan, maka Olimpiade ke Olimpiade, Indonesia hanya akan terus bertumpu pada bulutangkis dan angkat besi untuk meraih medali.

Makanya, Kementerian yang dipimpinnya itu sedang membuat desain besar olahraga nasional. Diharapkan, desain besar itu bisa membuat semakin banyak cabor lain yang berpotensi memberikan medali bagi Indonesia di ajang Olimpiade.

"Berdasarkan perolehan medali Olimpiade Tokyo 2020, maka apa yang dihasilkan sudah mencapai target. Kalau menggunakan target itu, kita sudah mencobanya, tetapi kita ingin mencoba membuat cara lain," kata Zainudin dalam konferensi pers secara virtual, Kamis 5 Agustus 2021.

"Kita ingin memperluas basis prestasi. Kalau kita hanya mengandalkan ukuran-ukuran capaian medali saja, bisa jadi kita terkotak di satu atau dua cabor saja yang konsisten," ucapnya.

"Paradigma seperti ini kita ubah di desain besar olahraga nasional dan kita tidak boleh lagi bertumpu pada satu atau dua cabor seperti sekarang," ujarnya.

Desain besar olahraga nasional memang belum dilaksanakan pada Olimpiade Tokyo 2020. Program ini kemungkinan besar baru akan dimulai pada Olimpiade Paris 2024.

Namun, untuk menjalankan ini semua, Kemenpora membutukan payung hukum berupa Peraturan Presiden (Perpres). Selain itu, Undang-Undang (UU) No.3/2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional juga harus direvisi agar desain besar tersebut tetap bisa berjalan kendati Menpora berganti.

"Supaya ini dipatuhi oleh seluruhnya, maka kita harus ada payung hukum. Selain Perpres, kami sedang mengadakan revisi tentang UU Sistem Keolahragaan Nasional," terangnya.

"Jadi, jangan sampai berganti menteri, berganti juga kebijakannya. Oleh karena itu, kita ikat dengan aturan yang sangat ketat," jelasnya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel