Menristek Beri Apresiasi PLTSa Merah Putih BPPT

Syahdan Nurdin, cely0731-649
·Bacaan 3 menit

VIVA – Dalam rangka mendukung pelaksanaan proyek strategis nasional, Menristek/Kepala BRIN Bambang P.S Brodjonegoro mengunjungi Pilot Project PLTSa BPPT di Bantargebang, Bekasi, Rabu (03/03).

Kunjungan ini merupakan rangkaian kunjungan kerja di Kabupaten Bekasi untuk meninjau pupuk Hayati serta Pilot Project Pengolah Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL).

Di kesempatan tersebut Menristek mengapresiasi upaya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang telah bekerja sama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dalam menanggulangi tumpukan sampah yang ada di Bantargebang.

“Ini merupakan contoh baik dari sinergi triple helix antara pemerintah, akademisi, dan industri dalam menghasilkan inovasi untuk menjawab masalah bangsa,” kata Bambang dalam kunjugannya.

Bambang menerangkan Pilot Project Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Merah Putih ini dapat mengolah sampah sebanyak 100 ton per hari dan menghasilkan energi listrik sebesar 731,1 KWH. Malahan, PLTSa Bantar Gebang telah membakar sebanyak 8.190 ton sampah selama Februari hingga Oktober 2020.

Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Merah Putih BPPT Bantargebang merupakan hasil kerja sama Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sejak MoU pada tahun 2017 lalu.

PLTSa terdiri dari empat peralatan utama yaitu bungker terbuat dari concrete yang dilengkapi dengan platform dan crane; ruang bakar dilengkapi boiler system reciprocating grate yang didesain dapat membakar sampah dengan suhu di atas 9500 Celsius sehingga meminimalisir munculnya gas buang yang mencemari lingkungan, sistem pengendali polusi, dan unit steam turbin pembangkit listrik.

“Ke depan Kemenristek atau BRIN dan BPPT berusaha untuk dapat membuat lebih banyak PLTSa di berbagai daerah di Indonesia untuk mengurangi masalah sampah yang ada,” ujar Bambang.

Sementara itu pada kesempatan yang sama Deputi Bidang Teknologi Pengembangan Sumber Daya Alam (TPSA BPPT) Yudi Anantasena mengatakan Sampah kota menjadi permasalahan hampir di semua kota di Indonesia.

Jumlah timbulan sampah terus meningkat, TPA juga overload, dan semakin sulitnya mencari lahan TPA baru. Gerakan pemilahan dan daur ulang sampah belum mampu mengatasi timbulan sampah secara signifikan.

Permasalahan sampah ini sudah menjadi perhatian Bapak Presiden Joko Widodo, dengan terbitnya Perpres percepatan pembangunan PLTSa atau lebih tepat disebut sebagai Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL).

bahwa Keberadaan Pilot Project PLTSa Bantargebang merupakan komitmen BPPT sebagai lembaga Kaji Terap Teknologi yang mendukung kebijakan pemerintah terkait percepatan pembangunan PLTSa di beberapa kota besar di Indonesia. Keberadaan PLTSa dimaksudkan sebagai upaya solusi penyelesaian permasalahan darurat sampah.

Yudi menambahkan Untuk mendukung program pemerintah tersebut, BPPT melakukan inovasi teknologi pengolahan sampah yang dapat mengolah secara cepat, signifikan dan ramah lingkungan. Dalam konteks itu, BPPT mendapat tugas untuk membangun Pilot Project PLTSa skala 100 ton per hari.

Sebagai lembaga kaji terap teknologi, BPPT berkomitmen untuk mendukung program pemerintah yang salah satunya fokus pada aspek lingkungan melalui penanganan sampah di Indonesia. Selain Pilot Project PLTSa, saat ini BPPT juga tengah terlibat dalam kegiatan penanganan sampah melalui pengembangan incinerator modular dan reverse engineering teknologi Refuse Derived Fuel (RDF).

Tujuan pembangunan Pilot Project PLTSa juga sebagai pembuktikan (proven technology) bahwa teknologi PLTSa tersebut dapat didesain dan dibangun oleh anak bangsa dengan kandungan dalam negeri yang tinggi (PLTSa Merah Putih).

Selain sebagai percontohan, Infrastruktur ini nantinya juga dimaksudkan sebagai wahana pendidikan dan pelatihan sumberdaya manusia yang handal untuk kegiatan perancangan, pembangunan, dan pengoperasian PLTSa khususnya untuk Pemprov DKI Jakarta selaku mitra BPPT, maupun stakeholder lainnya.

Pada tahun 2020 lalu dilakukan pengoperasian dan pemeliharaan Pilot Project PLTSa Bantargebang oleh tim BPPT dengan menggunakan pendanaan Pemprov DKI Jakarta melalui mekanisme kerjasama Swakelola 2.

Hingga kini, Pilot Project PLTSa Bantargebang dapat dioperasikan dengan baik yang diindikasikan dapat mengolah sampah menjadi listrik, serta sistem pengendalian pencemaran emisi udara memenuhi baku mutu.

Pada tahun 2021 ini telah disepakati untuk melanjutkan pengoperasian dan pemeliharaan Pilot Project PLTSa Bantargebang dengan menggunakan pendanaan dari Pemprov DKI Jakarta.

Menristek/Kepala BRIN Bambang P.S Brodjonegoro Kunjungi PLTSa Merah Putih
Menristek/Kepala BRIN Bambang P.S Brodjonegoro Kunjungi PLTSa Merah Putih

Menristek/Kepala BRIN Bambang P.S Brodjonegoro Kunjungi PLTSa Merah Putih

Mekanisme operasional tahun 2021 dirancang sebagai masa transisi pengoperasian dan pemeliharan kepada DLH DKI pada awal tahun 2022, dan selanjutnya Tim Ahli BPPT akan berfungsi sebagai tim pendamping dan pengawas terhadap pengembangan teknologi.

Diharapkan dengan adanya kunjungan ini dapat memberikan dampak yang baik dan bermanfaat bagi pengembangan ke depan PLTSa Bantar Gebang guna kesejahteraan masyarakat.