Menristek : Indonesia Saatnya Kembangkan Nuklir

Banjarmasin (ANTARA) - Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Gusti Muhammad Hatta menilai Indonesia saatnya memulai pengembangan energi nuklir untuk kebutuhan energi dan pengembangan sumber daya pangan guna meningkatkan kesejahteraan rakyat.

"Kalau masyarakat bersedia dan bisa menerima kita harus memulai mengembangkan energi nuklir sebelum sumber daya alam seperti batu bara dan lainnya habis," kata Menristek dalam dialog interaktif dengan Gubernur Kalsel Rudy Ariffin dan para peneliti dari lembaga Litbang regional Kalimantan, di Banjarmasin, Jum`at.

Menurut Hatta, saat ini pihaknya sangat sulit untuk mengubah stigma masyarakat tentang nuklir, sehingga sulit untuk mengembangkan teknologi yang sebenarnya jauh lebih murah dibanding energi lainnya.

Masyarakat, kata Hatta, masih berpikiran bahwa energi nuklir hanya bisa dimanfaatkan untuk melakukan pengeboman seperti yang terjadi di Hirosima dan Nagasaki serta yang terakhir di Fukushima Jepang yanga terkena tsunami.

Kejadian radiasi nuklir di negara tersebut membuat masyarakat semakin sulit menerima pengembangan energi tersebut karena mengira kematian ribuan warga akibat radiasi padahal yang terbanyak diakibatkan oleh tsunami.

Padahal tambah Hatta, nuklir memiliki manfaat yang cukup luas, bukan hanya untuk pengembangan energi seperti listrik tetapi juga bisa dikembangkan untuk memenuhi peningkatan sektor pangan.

Seperti pengembangan bibit padi unggul yang dari radiasi nuklir yang hasilnya jauh lebih baik dibandingkan dengan bibit padi biasa.

"Makanya kalau masyarakat bisa menerima, saat sekarang waktunya mengembangkan energi tersebut, jangan sampai terlambat bila terlambat bisa diibaratkan orang yang ingin buang air besar tetapi keluar di celana," kata Gusti disambut gelak tawa peserta.

Menurut Hatta, wilayah Kalimantan cocok untuk dikembangkan energi nuklir karena karakteristiknya yang bebas dari gempa dibandingkan Jawa, namun terkendala pada pola pikir masyarakat yang belum bisa menerima.

Ada dua wilayah di Kalimantan yaitu Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur yang siap mengembangkan energi tersebut, namun kini Kementerian Ristek masih fokus mengembangkan energi nuklir tersebut di wilayah Sumatera.

Pernyataan sama disampaikan Kepala Batan Hadi Hustowo bahwa stigma negatif masyarakat terhadap pengembangan energi nuklir hingga kini masih sulit untuk dihapuskan.

Dengan demikian, pengembangan energi murah tersebut kini belum bisa dilaksanakan secara maksimal, padahal energi tersebut bisa dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan bukan hanya untuk listrik tetapi juga untuk rumah sakit dan pertanian.

Di Kalsel kata dia, sudah dua instansi yang memanfaatkan energi tersebut yaitu RSUD Ulin Banjarmasin dan di pabrik pakan ternak Pelaihari Kabupaten Tanah Laut.

Pemanfaatan energi pada dua lokasi di Kalsel tersebut telah mendapatkan persetujuan dari Batan.


Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.