Menristek Sebut Industri Obat Lokal Tak Berkembang karena Dokter Terbiasa Pakai Impor

·Bacaan 1 menit

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Riset dan Teknologi Bambang Brodjonegoro menyatakan bahwa minimnya pemanfaatan Obat Modern Asli Indonesia (OMAI) di industri kesehatan dalam negeri. Hal ini tak lepas dari keputusan dokter yang masih enggan memanfaatkan OMAI dalam upaya menyembuhkan penyakit pasien.

"Misal penyakit ginjal, dokter terbiasa pakai obat ginjal yang impor, maka kita harus punya strategi dokter mulai beralih ke fitofarmaka. Ini problem terbesar. Karena pemakainya dalam hal ini dokter belum berani atau belum terbiasa ke pasien," ujar dia dalam webinar bertajuk Pengembangan OMAI untuk Kemandirian Obat Nasional, Jumat (6/11/2020).

Bambang melanjutkan, pernyataan itu berdasarkan dari berbagi sumber penelitian dan temuan yang ada di lapangan. Dimana dokter dinilai memegang peranan penting untuk pengadaan dan pemanfaatan obat di berbagai fasilitas layanan kesehatan.

"Ternyata yang pengadaan (obat) tak bisa hanya direksi atau pimpinan rumah sakit. Tetapi yang bisa menentukan ialah dokter," paparnya.

Padahal, sambung Bambang, Indonesia memiliki biodiversitas alam yang kaya, kedua di dunia setelah Brazil. Sehingga kehadiran OMAI dapat menjadi solusi guna menjadikan Indonesia lebih mandiri dalam memproduksi obat.

"Karena selama ini bahan baku obat di Indonesia masih impor hingga 90 sampai 95 persen. Ini pemborosan devisa negara," terangnya.

Ajak Perhimpunan Dokter

Ilustrasi obat medis dan jarum suntik (Foto:Arek Socha dari Pixabay)
Ilustrasi obat medis dan jarum suntik (Foto:Arek Socha dari Pixabay)

Oleh karena itu, dia meminta kerja sama seluruh jajaran Perhimpunan Dokter Herbal Medik Indonesia (PDHMI) juga dr Hardhi Pranata selaku pendiri PDHMI, untuk bersama-sama mengajak para dokter agar mau beralih menggunakan obat herbal berstandar, yakni OMAI. Sehingga mendorong peningkatan pemanfaatan OMAI di industri kesehatan domestik.

"Karena kuncinya ada di profesi dokter. Direktur rumah sakit sekedar bantu pengadaan. Tapi obat yang mau dipilih semua di tangan dokter. Karena itu dokter harus kampanye lebih agar dokter mau keberpihakan akan OMAI," tandasnya.

Saksikan video pilihan berikut ini: