Menristek: Sektor Pariwisata Hampir Tidak Bisa Digantikan dengan Digital

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/BRIN) Bambang Brodjonegoro mendorong penggunaan alat skrining Covid-19 GeNose di sektor pariwisata.

Hal ini dinilai penting karena sektor pariwisata membutuhkan kontak fisik yang lebih dominan dari sektor manapun. Gegara pandemi yang membatasi aktivitas fisik, sektor pariwisata terkena dampak yang paling besar.

Bambang bilang, tes skrining ini akan membantu sektor pariwisata bangkit karena tidak seperti sektor lain, sektor pariwisata hampir tidak bisa digantikan dengan digital.

"Meskipun ada yang menawarkan virtual tour guide. Misalnya, ke Kota Tua di Jakarta. Dia keliling di Kota Tua sambil cerita dan menunjukkan, ini lho ada restoran ini, ada patung ini. Mungkin itu suatu inovasi dalam membuat pariwisata tetap hidup. Tapi tetap saja, something is missing, the real experience," jelasnya dalam Launching GeNose untuk Kepariwisataan Indonesia, Jumat (19/2/2021).

Pengalaman nyata (real experience) yang dimaksud Bambang berkaitan dengan sensasi yang dirasakan oleh para pelancong, yang tidak bisa serta merta digantikan dengan teknologi digital.

Pengalaman tersebut haruslah bersifat fisik dan inklusif. Kata Bambang, tidak mungkin ada tempat pariwisata eksklusif karena pasti akan banyak orang yang berdatangan. Oleh karenanya selama pandemi berlangsung, sektor pariwisata belum dapat diprediksi kapan pulih totalnya.

"Kalau saya jadi turis, itu bukan saya hanya sekadar tahu Bali seperti apa, Raja Ampat seperti apa, Komodo seperti apa. Kalau diceritain, nonton video, gampang. Tapi tetap saja habis melihat, apa ya, rasanya kalau saya yang disitu, jadi tetap ada yang hilang," katanya.

Dengan alasan tersebut, pihaknya ingin agar GeNose dapat didayagunakan agar bisa menghidupkan kembali sektor pariwisata.

"Karena GeNose ini alat skrining. Tujuan skrining, tujuan GeNose, mencegah orang yang positif ada di antara kita. Jadi supaya masuk ke suatu tempat itu lebih aman karena tidak ada yang positif," katanya.

Kemenparekraf Dapat Hibah GeNose untuk Screening Covid-19, Kapan Giliran Pelaku Usaha Pariwisata?

Calon penumpang kereta api menutup kantong berisi nafasnya yang kemudian dites COVID-19 dengan GeNose C19 di Stasiun Pasar Senen, Jakarta, Jumat (5/2/2021). PT Kereta Api Indonesia memberlakukan calon penumpang menjalani GeNose C19 untuk tes COVID-19. (Liputan6.com/Faizal Fanani)
Calon penumpang kereta api menutup kantong berisi nafasnya yang kemudian dites COVID-19 dengan GeNose C19 di Stasiun Pasar Senen, Jakarta, Jumat (5/2/2021). PT Kereta Api Indonesia memberlakukan calon penumpang menjalani GeNose C19 untuk tes COVID-19. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Sebelumnya, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) mendapat hibah satu alat GeNose dari Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) Indonesia pada Selasa (9/2/2021). Alat tersebut berfungsi untuk memprediksi apakah seseorang terpapar Covid-19 lewat embusan napasnya.

Satu alat GeNose tersebut akan dipasang di kantor Kemenparekraf yang berada di Jalan Merdeka Barat, Jakarta Pusat. Namun, Menparekraf Sandiaga Uno menyebut karya peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM) juga akan dipasang di enam perguruan tinggi pariwisata, tiga badan otorita, dan satuan kerja lain.

"It's a game changer, sebuah langkah yang melengkapi. Selagi menunggu vaksin, kita harap vaksin terdistribusi dan kita juga punya langkah sertifikasi CHSE, alangkah baiknya dilengkapi testing oleh GeNose," kata Menparekraf dalam jumpa pers virtual di Jakarta.

Ia menekankan bahwa penerapan protokol kesehatan 3M saja tak cukup untuk kembali membangkitkan sektor pariwisata bila tak diikuti oleh tracing, testing, and treatment (3T) secara disiplin. Hal itu terbukti dari pengalaman daerah yang berhasil menekan Covid-19 adalah yang menerapkan langkah tersebut disertai isolasi mandiri secara ketat.

Sementara, Menristek/Kepala BRIN Bambang Brodjonegoro menyebut penggunaan GeNose secara masif akan membuat proses screening lebih baik. Utamanya bila digunakan di lokasi-lokasi yang relatif banyak orang, seperti perkantoran. Dengan pengetesan setiap hari, orang akan merasa lebih aman beraktivitas dengan orang lain.

"Tentunya bisa jadi alat pemulihan eknomi dan (pembuatannya) melalui prosedur yang panjang. Seperti saya terangkan tadi, penelitian GeNose tidak instan, sudah dimulai 10 tahun lalu," ujar Bambang.

Ia mengingatkan bahwa penggunaan GeNose sebagai alat screening lebih nyaman dibandingkan tes rapid antigen maupun swab PCR. Pengguna cukup mengembuskan napasnya, tidak perlu dicolok hidung dan tenggorokannya untuk diambil sampel. Pasalnya, GeNose menganalisis partikel udara, bukan mendeteksi virus.

"Tiap hari lebih efektif, lebih aman, daripada secara berkala," sambung Bambang.

Bagaimana dengan Pelaku Usaha Pariwisata?

Sandi mengingatkan bahwa sekitar 34 juta orang menggantungkan hidup di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Maka, dia mendorong agar screening menggunakan GeNose dan penyelenggaraan 3T juga bisa dilakukan di destinasi-destinasi wisata. Langkah itu diharapkan bisa mengembalikan rasa aman dari para pelancong dan pelaku pariwisata.

Lalu, kapan para pelaku usaha akan bisa mendapatkannya? "Kami butuh kolaborasi karena di Kemenparekraf ada keterbatasan. Kami ingin kerja sama pentahelix, dengan dunia usaha, masyarakat, dan akademisi setempat," ucap dia.

Sandi mengaku akan segera bergerak dengan mengumpulkan para pelaku usaha. Ia menyebut pengusaha memiliki fleksibilitas lebih baik dibandingkan pemerintah yang harus melewati beberapa tahapan penganggaran sebelum bisa mengadakan GeNose.

"Besok saya akan bertemu dengan Kadin, Pak Roshan. Saya minta teman-teman Kadin dan asosiasi, Pak Hariyadi (PHRI), kumpulkan jumlahnya," ujar dia.

Untuk itu, ia mengusulkan agar pemesan memberikan skema DP agar tidak memberatkan produsen sekaligus menjaga kualitas. "Ongkos produksi berat," kata Sandi.

Sementara itu, Direktur PT Hikari Solusindo Sukses (PT HKS) Eko Fajar Nurprasetyo mengaku bulan ini akan memproduksi 3.000 GeNose yang akan disebar ke beberapa sektor. Sedangkan, jumlah pesanan yang sudah masuk mencapai 2.000 unit. Ia menjelaskan pemesan terbanyak adalah fasilitas kesehatan, disusul perkantoran dan pesantren.

"Dan terkait pariwisata, mungkin setelah ini, setelah Pak Menteri mempromosikan," ucapnya.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: