Menristek: Waspadai Varian Baru Virus Corona

Tasya Paramitha, Isra Berlian
·Bacaan 2 menit

VIVA – Beberapa pekan belakangan ini, dunia tengah khawatir dengan adanya mutasi virus corona yang terjadi di Inggris. Varian baru virus corona yang dinamakan Varian Under Investigation 20201201 (VUI 20201201) ini diketahui pertama kali ditemukan pada akhir September 2020.

Menteri Riset dan Teknologi, Bambang Brodjonegoro mengatakan bahwa lebih dari 1.100 kasus varian baru virus corona ditemukan di Inggris sejak 20 September 2020.

"Kemudian peningkatan cepat sehingga di November, terutama Desember, terjadi peningkatan yang luar biasa. Sehingga di Inggris Tenggara yang paling terdampak dari seluruh isolat virus yang ditemukan dari pemeriksaan sampel 50 persen kandung varian ini," kata Bambang dalam virtual conference, yang ditayangkan di channel YouTube BNPB, Kamis, 24 Desember 2020.

Dijelaskan Bambang, alasan kenapa varian baru virus corona ini ditemukan di Inggris lantaran negara tersebut memiliki monitoring dan surveilans genomik dan molekuler terbaik di dunia. Sehingga bisa mendeteksi bahwa ada mutasi virus ini yang menyebabkan penularan yang cepat.

"Sudah terlihat di Inggris penularannya lebih cepat, tapi belum ada bukti varian ini menimbulkan tingkat keparahan yang lebih. Tidak membuat penyakitnya lebih berat dan juga tidak menambah tingkat kematian. Tapi tentu tidak boleh lupa bahwa penyebaran SARS-CoV-2 ini langsung terkena pada orang yang berpotensi seperti orang dengan komorbid maupun orang tua," jelas dia.

Lebih lanjut, Bambang mengatakan bahwa varian baru virus ini menyebabkan angka kasus harian COVID-19 terutama di Inggris Tenggara, termasuk London mengalami peningkatan yang lebih cepat dibanding kasus harian nasional se-Inggris. Maka dari itu, kata Bambang, penting untuk mewaspadai varian baru virus ini.

"Di Inggris terjadi kenaikan dan saat ini posisi Inggris R lebih 1, artinya 1 orang bisa tularkan lebih dari 1 orang. Di daerah Inggris Tenggara termasuk London terjadi peningkatan cepat dibanding kasus nasional se-Inggris,” ucapnya.

“Varian ini sebabkan peningkatan kasus harian lebih cepat. Setelah dilihat sampel positif di awal Desember, mayoritas 60 persen di London sudah mengandung varian baru ini. Varian baru ini harus diwaspadai," jelas dia.

Tidak hanya di Inggris, Bambang juga menyebut bahwa varian terbaru virus corona juga ditemukan di Afrika Selatan dan Australia.

"Selain di Inggris, ditemukan juga varian serupa di Australia dan Afrika. Punya penularan yang cepat, Dampaknya pada pemeriksaan mesin PCR, salah satunya mendeteksi Gen S (spike). Kalau mesin PCR menargetkan Gen S, maka ada kemungkinan ada gangguan akurasi," kata dia.

Ingat, saat ini jumlah kasus COVID-19 di Indonesia masih tinggi. Untuk itu jangan lupa tetap patuhi protokol kesehatan dan lakukan 3M: Memakai Masker, Menjaga Jarak dan Jauhi Kerumunan serta Mencuci Tangan Pakai Sabun,

#pakaimasker
#jagajarak
#cucitangan
#satgascovid19
#ingatpesanibu