Menstruasi di Antartika itu tidak mudah – Ini cara kami membantu perempuan yang bekerja di sana

Perempuan telah melakukan kerja lapangan di Antartika selama lebih dari 40 tahun. Namun mereka hanya terdiri dari 25% ekspedisi dari Program Antartika Australia. Terlepas dari kemajuan yang ada selama beberapa dekade, isu sejarah yang sarat seksisme dan bias gender terus berlanjut di lingkungan lapangan ekstrem yang sepertinya disiapkan hanya untuk pria.

Mengelola menstruasi, merupakan tantangan yang diabaikan bagi perempuan yang bekerja di Antartika dan lingkungan ekstrem lainnya yang banyak didominasi pria.

Jika kita ingin memiliki tenaga kerja yang beragam dan inklusif di kutub, kita perlu secara terbuka dan sukarela mengatasi tantangan yang dihadapi perempuan, trans, dan non-biner yang mengalami menstruasi di lapangan.

Siapa saja yang bisa bekerja di Antartika?

Selama beberapa dekade, toilet telah menjadi cara utama bagi pria untuk mengontrol siapa yang memiliki akses ke lingkungan ekstrem. Misalnya, hingga akhir 1970-an para perempuan diberi tahu bahwa mereka tidak dapat bekerja di Antartika karena tidak ada fasilitas untuk mereka di Antartika .

Perempuan juga tidak diperbolehkan berpartisipasi dalam perjalanan ruang angkasa karena tubuh hormonal mereka dianggap terlalu tidak dapat diprediksi oleh para pemimpin pria NASA.

Lalu muncul Misi Sally Ride tahun 1983 di Space Shuttle Challenger yang menandai era baru kemajuan bagi akses perempuan ke kerja lapangan di Antartika. Jika perempuan bisa pergi ke luar angkasa, mereka pasti bisa pergi ke Antartika! Sekitar waktu inilah Program Antartika Nasional Inggris, Amerika Serikat, dan Australia mulai mengizinkan perempuan untuk melakukan kerja lapangan di Antartika.

Misi tersebut juga mengungkap pengalaman NASA terkait menstruasi. Dalam mendesain ulang kit penerbangan luar angkasa untuknya, para insinyur NASA terkenal bertanya kepada Ride apakah 100 tampon akan cukup untuk misi satu minggu.

Dalam penelitian terbaru saya, saya berbicara dengan banyak ekspedisi perempuan tentang bagaimana mereka mengatur rintangan yang terkait dengan menstruasi di Antartika. Mereka mengungkapkan bahwa mengelola menstruasi tetap tabu, dan semakin dipersulit dengan adanya budaya diam.

Seperti yang dikatakan seorang ekspedisi kepada saya:

Saya belum pernah melakukan percakapan yang baik dengan perempuan lain karena tidak ada yang pernah bekerja dengan saya. Saya biasa mengatasi hal ini sendiri.

Kehidupan sebagai penjelajah di Antartika

Kenapa menstruasi di Antartika sulit?

Nah, pertama -tama, kamu hanya bisa menggunakan toilet di tempat-tempat tertentu karena undang-undang perlindungan lingkungan. Kamu harus mengumpulkan semua limbah tubuh kamu dalam wadah tertutup, dan dibawa kembali ke stasiun untuk dibakar.

Karena ekspedisi mungkin harus membawa produk menstruasi bekas selama beberapa minggu di lapangan, mereka perlu mempertimbangkan tidak hanya produk apa yang akan mereka gunakan, tetapi juga bagaimana mereka akan membuangnya.

Menstrual cup yang dapat digunakan kembali seringkali lebih disukai karena tidak menghasilkan limbah dan dapat dibiarkan di dalam tubuh lebih lama (4-8 jam) daripada produk sekali pakai. Namun, cup tersebut harus dikosongkan dan dibersihkan setidaknya tiga kali dalam 24 jam untuk meminimalisir adanya risiko sindrom syok toksik.

Seperti yang dijelaskan oleh salah satu penjelajah:

Menstrual cup memang luar biasa tetapi [mereka] juga harus melibatkan proses pembelajaran yang tidak mudah. Saya mulai belajar menggunakannya untuk [ekspedisi] karena saya seperti tidak bisa lagi membawa tampon bekas di tas saya […] Yang sulit adalah membersihkannya secara diam-diam.

Perempuan yang sedang menstruasi mengganti pembalut mereka di ruang bersama yang kecil. Para perempuan yang saya wawancarai menggambarkan kerumitan melakukan ini dalam tim yang didominasi pria:

Pertama kali saya pergi ke Antartika saya naik perahu […] Saya pergi dengan [sekelompok] laki-laki. Ini terjadi ketika saya menstruasi dan saya seperti, oh, Tuhan, apa yang harus saya lakukan di sini?