Mental Bullying pada Anak, Dapatkah Ditoleransi?

Syahdan Nurdin, alifarismaa-507

VIVA – Baru-baru ini publik dikejutkan dengan sebuah video di media sosial tentang perundungan yang dilakukan oleh sejumlah pemuda kepada seorang anak penjual jalangkote di kawasan Pangkep, Sulawesi Selatan.

Terlihat dari video tersebut korban yang baru berusia 12 tahun itu didorong oleh salah satu pemuda hingga jatuh tersungkur. Dalam video lain pula, bocah tersebut terlihat dipukuli dan diganggu oleh pemuda lainnya hingga akhirnya dia dan sepedanya jatuh di pinggiran lapangan.

Sungguh miris melihatnya yang sedang berjualan demi membantu kedua orangtuanya untuk menopang ekonomi keluarga di tengah pandemi yang terjadi saat ini.

Sebenarnya, banyak kasus perundungan atau bullying yang terjadi di Indonesia, baik itu yang terekspos, sedikit terekspos, hingga yang tidak terekspos sama sekali.

Rata-rata pelaku pembullyan adalah remaja sekitar usia 13-25 tahun, dan mayoritas terjadi di lingkungan sekolah maupun lingkungan rumah, dan media sosial. Hal tersebut menjadi sebuah sorotan bahwa sebenarnya banyak anak di Indonesia yang memiliki mental pembully.

Dilansir laman kpai.go.id, KPAI mencatat dari tahun 2011 sampai 2019, ada 37.381 pengaduan kekerasan terhadap anak dan 2.473 laporan untuk kasus bullying, baik di dunia pendidikan maupun sosial media.

Sungguh bullying merupakan kasus yang tidak bisa dianggap remeh. Meskipun telah banyak pasal undang-undang yang telah disahkan oleh pemerintah terkait tindakan kekerasan maupun perundungan pada anak, tetap saja buktinya masih banyak anak yang memiliki mental pembully.

Kebanyakan para pelaku bullying merasa bahwa mereka lebih kuat daripada si korban, sehingga mereka menindas korban dengan atau tanpa alasan. Lalu, apa saja faktor yang bisa menjadikan remaja sebagai pelaku kasus bullying?

Salah satu website luar negeri stompoutbullying.org menyebutkan bahwa beberapa faktor yang umum ditemukan ketika remaja/anak melakukan bullying terhadap temannya adalah kurangnya kasih sayang orangtua terhadapnya.

Mereka mencari perhatian dengan melakukan ‘penyerangan’ terhadap anak lainnya. Biasanya, untuk kasus seperti ini adalah anak dari korban perceraian, anak terlantar, atau anak dengan orangtua di bawah pengaruh alkohol atau minuman keras.

Kita juga tidak bisa menyangkal bahwa panutan seorang anak adalah orang yang lebih tua, bisa itu orangtuanya sendiri, guru, selebritis, dan lain-lain.

Dan ketika panutan mereka melakukan suatu tindakan yang abusive, besar kemungkinan bahwa mereka akan mencontohnya juga. Peran media massa seperti televisi juga memiliki andil yang lumayan besar dalam proses penangkapan memori seorang anak.

Maka dari itu orangtua harus pintar-pintar mengawasi anaknya agar tidak meniru adegan yang tidak bermoral. Para pembully biasanya mendominasi, menyalahkan, atau bahkan ‘menggunakan’ orang lain sebagai tameng.

Rasa empati yang kurang akan sesama menjadikan mereka bertindak semau mereka dan tidak pernah memikirkan konsekuensi yang harus diterima di kemudian hari.

Dilansir dilaman stopbullying.gov efek yang dirasakan para korban bullying tidak hanya persoalan kepercayaan diri yang pastinya turun, efek lain seperti masalah fisik dan kesehatan mental yang ikut turun pun tidak bisa dianggap remeh.

Gangguan kesehatan mental berupa depresi, kecemasan akan terulang lagi kejadian yang sama, perasaan sedih, kesepian, ketidak teraturan pola tidur atau bahkan pola makan, menurunnya tingkat prestasi akademik, keaktifan di sekolah, dan kemungkinan mereka akan kehilangan minat di bidang yang mereka sukai, selalu menghantui pikiran para korban bullying.

Lebih parahnya lagi, gangguan kesehatan mental tersebut bisa membuat mereka trauma sampai mereka dewasa. Maka dari itu mulai dari hari ini dan mulai dari diri kita sendiri, kita harus lebih peka terhadap pentingnya menghentikan kasus bullying di manapun kasus itu terjadi dan selalu bersikap positif kepada orangl ain.