Mentan: Berkat Pupuk Subsidi, Nilai Tambah Produksi Pertanian Capai 250 Persen

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo mengatakan subsidi pupuk memberikan nilai tambah produksi pertanian Indonesia mencapai 250 persen.

“Hasil kajian balitbangtan 2020 nilai tambah produksi sebagai dampak pupuk bersubsidi mencapai Rp 98,4 triliun. Jika dibandingkan anggaran yang digunakan rata-rata dari 2014-2020 Rp 28,1 triliun maka nilai manfaat mencapai di atas 250 persen,” kata Mentan dalam Raker Komisi IV, Senin (25/1/2021).

Mentan menjelaskan, pupuk bersubsidi itu ditujukan untuk memenuhi kebutuhan nasional dengan luas baku sawah 7,46 juta hektar diperlukan 21 juta ton pupuk. Namun Kementan baru memenuhi 9 juta ton pupuk, dimana pangan hanya teralokasi 6,1 juta ton.

Adapun terkait dengan produksi padi menurut FAO 2018, produksi padi Indonesia 5,19 ton per hektar lebih tinggi dibandingkan produksi Thailand hanya 3,09 ton per hektar, Filipina 3,97 ton per hektar, India 3,88 ton per hektar, Pakistan 3,84 ton per hektar, dan beberapa negara lainnya.

“Produksi padi tersebut makin terdapat peluang untuk kita tingkatkan di masa akan datang,” ujarnya.

Sebagai informasi, Kementerian Pertanian (Kementan) telah menerbitkan Permentan Nomor 49 Tahun 2020 tentang pedoman Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk pupuk bersubsidi tahun anggaran 2021.

Dalam Permentan tersebut, disebutkan harga pupuk urea yang semula Rp 1.800 per kg, naik Rp 450 menjadi Rp 2.250 per kg. Lalu pupuk SP-36 dari HET Rp 2.000 per kg naik Rp 400 sehingga menjadi Rp 2.400 per kg.

Jokowi: Subsidi Pupuk 10 Tahun Rp 330 Triliun, Hasilnya Apa?

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo bersama Presiden Jokowi dan Menteri Kabinet Indonesia Maju saat meninjau pengembangan program food estate di Kalimantan Selatan.
Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo bersama Presiden Jokowi dan Menteri Kabinet Indonesia Maju saat meninjau pengembangan program food estate di Kalimantan Selatan.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengkritik penyaluran subsidi pupuk yang nilainya mencapai Rp 33 triliun per tahun. Menurutnya, imbal hasil dari subsidi tersebut tidak terlihat nyata.

"Setahun berapa subsidi pupuk? Rp 33 triliun, kembaliannya apa? apakah produksi melompat naik?" tanya Jokowi saat membuka rapat kerja nasional pembangunan pertanian di Istana Negara, Jakarta, pada Senin 11 Januari 2021.

Menurut Jokowi, dana yang digelontorkan oleh negara untuk program subsidi pupuk setiap tahun ini tidak kecil. Ia pun menghitung jika dana tersebut diakumulasikan dalam 10 tahun maka pengeluaran negara tergolong sangat besar.

"Kalau 10 tahun sudah Rp 330 triliun, angka itu besar sekali artinya tolong ini dievaluasi ini ada yang salah, saya sudah berkali-kali meminta ini," jelas Jokowi.

Menurut Jokowi, solusi dari angka subsidi pupuk adalah imbal setimpal. Dia meyakini, jika hal itu tidak tercapai, maka ada kesalahan dalam angka subsidi harus dievaluasi.

"Kalau tiap tahun kita keluarkan subsidi pupuk seperti itu kemudian tidak ada lompatan di sisi produksinya, itu ada yang salah, ada yang tidak bener di situ," pungkas Jokowi.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: