Mentan All Out Gerakan Ketahanan Pangan Nasional

Liputan6.com, Jakarta Kementerian Pertanian meminta kepada petani dan penyuluh untuk memperkuat Gerakan Ketahanan Nasional. Terutama dalam masa pandemi Covid-19 yang mengganggu banyak sektor, termasuk sektor pertanian.

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan gerakan ketahanan nasional harus didukung banyak pihak. Khususnya oleh petani dan penyuluh.

“Covid-19 sudah meluluh lantakkan seluruh sektor kehidupan. Ekonomi hancur, pelayanan jasa terpuruk, termasuk sektor pertanian yang terganggu signifikan. Yang tergangu adalah sistem distribusi, dan pemasaran. Oleh karena itu, kita mendorong petani dan penyuluh melakukan percepatan tanam untuk mendukung gerakan ketahanan pangan nasional,” tutur Mentan SYL.

Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan Dedi Nursyamsi mengatakan Kementerian Pertanian telah merumuskan metode 4 Cara Bertindak untuk mencapai ketahanan pangan.

Hal tersebut disampaikan Dedi dalam kegiatan Mentan Sapa Penyuluh dan Petani (MSPP) melalui video conference, Jumat (12/6) dengan tema ‘Peran Petani dan Penyuluh dalam Gerakan Ketahanan Pangan Nasional di Era New Normal Pandemi Covid-19’.

“Kementan sudah merumuskan metode Cara Bertindak untuk mencapai ketahanan pangan nasional. Terdiri dari Cara Bertindak 1 yaitu peningkatan kapasitas produksi. Di dalamnya, kita mengajak insan pertanian melakukan percepatan tanam padi Musim Tanam II 2020 seluas 6,1 juta ha, kemudian pengembangan lahan rawa di Kalteng 164.598 ha, termasuk intensifikasi lahan rawa 85.456 ha dan ekstensifikasi lahan 79.142 ha. Kita juga melakukan perluasan areal tanam baru (PATB) untuk padi, jagung, bawang merah, dan cabai di daerah defisit, peningkatan produksi gula, daging sapi, dan bawang putih untuk mengurangi impor,” tutur Dedi Nursyamsi.

Sedangkan dalam Cara Bertindak 2, yang menjadi fokus adalah diversifkaksi pangan lokal. Kementan akan mengembangkan diversifikasi pangan lokal berbasis kearifan lokal yang fokus pada satu komoditas utama.

“Kita mengajak semua untuk memanfaatkan pangan lokal secara masif seperti ubi kayu, jagung, sagu, pisang, kentang, dan sorgum, juga pemanfaatan lahan pekarangan dan marjinal melalui program pekarangan pangan lestari (P2L) untuk 3.876 kelompok,” tuturnya.

Untuk Cara Bertindak 3 dilakukan penguatan cadangan dan sistem logistik pangan. Dijelaskan Dedi, hal yang harus dilakukan adalah penguatan cadangan beras pemerintah provinsi (CBPP), kemudian penguatan cadangan beras pemerintah kabupaten/kota (CBPK).

Kementan juga akan mendorong akselerasi penguatan cadangan pangan pemerintah daerah, dan pengembangan lumbung pangan masyarakat (LPM) serta LPM berbasis desa (LPM des). Saat ini, ada 5.328 LPM yang tersebar di 33 provinsi, kemudian bekerjasama dengan Kostrateling disetiap lumbung pangan kecamatan, penguatan sistem logistik pangan nasional untuk stabilisasi pasokan dan harga.

“Sedangkan dalam Cara Bertindak 4 penekanannya adalah pengembangan pertanian modern. Caranya melalui pengembangan smart farming, pengembangan dan pemanfaatan screen house untuk meningkatkan produksi komoditas hortikultura di luar musim tanam (cabai bawang merah dan komoditas bernilai ekonomi tinggi), pengembangan korporasi petani, pengembangan food estate untuk peningkatan produksi pangan utama (beras/jagung) di Kalteng,” tuturnya.

Dedi menambahkan, metode Cara Bertindak ini didapat dari stratagi Kementan dalam menghadapi pandemi, yaitu Agenda SOS atau emergency, kemudian menjaga stabilitas harga pangan dan membangun buffer stok.

“Ada juga Agenda Jangka Menengah seperti melanjutkan padat karya pasca covid, diversifikasi pangan lokal, supporting daerah defisit, antisipasi kekeringan, menjaga semangat kerja pertanian melalui bantuan saprodi dan alsintan, family farming, mendorong kelancaran distribusi pangan, penguatan ekspor pertanian, penguatan Kostratani,” jelasnya.

Ada juga Agenda Permanen atau Jangka Panjang, seperti mendorong peningatan produksi 7% per tahun, kemudian penurunan losses menjadi 5%.

“Kita juga mendorong ekstensifikasi tanaman pangan pada lahan rawa, penumbuhan pengusaha petani milenial, pengembangan korporasi petani, pengembangan B30 dan kelapa sawit, pertanian 4.0, peningkatan ekspor 3 kali lipat, peningkatan NTP,” papar Dedi.

Dalam video conference ini, bergabung juga Gubernur Kalimantan Utara Irianto Lambrie. Menurutnya, potensi pertanian yang dimiliki Kaltara sangat besar, khususnya hortikultura. Sebagian besar pertanian masih dikelola secara tradisional.

“Saya mengusulkan ke Kementan untuk membuat balai atau pusat penelitian di Kaltara, seperti penelitian buah-buahan. Karena durian yang hebat di dunia, banyak bibitnya dari Kalimantan. Selama ini potensi dimanfaatkan negara tetangga, Sabah dan Sarawak. Kita punya beras yang dikonsumsi raja Brunei, dan hanya ada di Kalimantan,” tuturnya.

Gubernur Irianto menambahkan, lahan untuk pertanian di Kaltara sangat luas dan banyak potensi sumber pangan baru yang bisa dijadikan pangan nasional.

“Kementan melalui litbang bisa meneliti kenapa bibit kita sangat bagus. Kalimantan punya banyak jenis buah yang tidak ada di tempat lain, seperti durian ungu. Hal ini harus dikembangkan. Tapi lakukan dulu penelitian. Untuk itu, Kita mengundang Mentan untuk hadir di Kaltara,” tegasnya.

 

(*)