Menteri Bahlil: Masa Depan Ekonomi Bukan di Jawa, tapi di Sumatera dan Kalimantan

Merdeka.com - Merdeka.com - Menteri Investasi, Bahlil Lahadalia menyebut bahwa masa depan ekonomi Indonesia akan tumbuh di luar Pulau Jawa. Hal itu telah terlihat dari sebaran realisasi investasi luar Jawa yang perkembangannya kini melebihi di Jawa.

"Artinya apa? Pemerataan pertumbuhan dalam rangka menciptakan kawasan-kawasan ekonomi baru sudah mulai terjadi. Jadi masa depan ekonomi bangsa bukan di Jawa, tapi di Sumatera, Maluku, Papua, Sulawesi, atau Kalimantan, katanya dalam Indonesian Young Leaders Forum Hipmi, Jakarta, Sabtu (11/6).

Mantan Ketua HIPMI periode 2015-2019 ini bercerita, dahulu para pengusaha baik asing maupun lokal lebih memprioritaskan investasi di pulau Jawa. Karena ketersediaan infrastruktur dinilai lebih lengkap dan sumber daya manusia yang lebih mumpuni dibanding luar Jawa.

Namun, kini sudah banyak investor yang menanamkan investasinya di luar Jawa. Lantaran, pemerintah terus berupaya membangun infrastruktur secara masif. Berdasarkan catatannya, realisasi investasi sejak kuartal III 2020 sampai kuartal I 2022 di luar Jawa lebih tinggi dari Jawa.

Menurut data terakhir Kementerian Investasi, realisasi investasi selama kuartal I-2022 di luar Jawa mencapai Rp148,7 triliun, sedangkan di Jawa Rp133 triliun. Artinya, investasi luar Jawa berkontribusi sebesar 52,7 persen dari total investasi sepanjang kuartal pertama tahun 2022.

Bahlil juga menyebutkan, target penanaman investasi pemerintah di tahun 2022 ini adalah sebanyak Rp1.200 triliun.

Dia optimis target tersebut akan tercapai. Untuk mewujudkan hal tersebut, Pemerintah melalui Kementerian Investasi akan terus berupaya mempermudah proses perizinan berusaha di Indonesia.

Cara Capai Target

Salah satunya melalui Online Single Submission (OSS) Berbasis Risiko yang dikelola oleh Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). Sistem OSS ini telah diluncurkan secara resmi oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 9 Agustus 2021.

Kendati diberikan kemudahan dalam mendapatkan perizinan, Bahlil menyebut masih terdapat kendala pada sistem tersebut.

"Problemnya adalah data RT RW, sekarang baru sekitar 50 kota yang RT dan RW yang baru memiliki (detail) tata ruang. Tapi sekarang dengan lewat OSS investor merasa nyaman," pungkasnya.

Reporter: Tira Santia

Sumber: Liputan6.com [idr]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel