Menteri Bahlil Usul Kenakan Pajak Ekspor untuk Hilirisasi Nikel Kurang dari 50 Persen

Merdeka.com - Merdeka.com - Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bahlil Lahadalia menegaskan komitmennya dalam mendukung hilirisasi. Salah satunya terkait wacana pengenaan pajak ekspor dengan ketentuan tertentu.

Misalnya, jika pengolahan bahan tambang masih berada di bawah 50 persen atau kurang dari barang setengah jadi, bisa dikenakan pajak ekspor. Tujuannya untuk menghadirkan perhatian kepada hilirisasi.

"Saya setuju bahwa hilirisasi nikel kita belum sepenuhnya kita lakukan secara baik. Jadi untuk nikel kita, saya kemarin melontarkan wacana, kalau hilirisasinya di bawah 50 persen kita kenakan saja pajak ekspor, karena ini kita dorong hilirisasi," katanya dalam Rapat Kerja dengan Komisi VI DPR RI, Jumat (10/6).

Wacana ini juga pernah disampaikan olehnya di Davos, Swiss beberapa waktu lalu. Di sana, Menteri Bahlil mengajak investor global untuk menanamkan dananya ke pengembangan mobil listrik di Indonesia.

Bahlil menambahkan, pihaknya akan mengawal secara ketat hilirisasi terkait baterai kendaraan listrik di Indonesia. Meski, dia menyebut ada berbagai tantangan.

"Makanya, untuk baterai karena saya sendiri yang kawal gak ada cerita sekalioun negara-negara lain tidak ikhlas untuk negara indonesia ini maju untuk menjadi negara industrialis," katanya.

Dalam pengembangan baterai kendaraan listrik, salah satu yang dipilih adalah Kawasan Industri Terpadu Batang (KIT-Batang). Menteri Bahlil menegaskan dua perusahaan telah berkomitmen membangun dikawasan itu, yakni LG dan Foxconn.

Prototipe Kawasan Industri

Menteri Bahlil mengungkap alasan KIT-Batang dipilih untuk dikembangkam jadi kawasan industri. Dia bahkan menyebut KIT-Batang jadi prototipe kawasan industri di Indonesia.

"Di batang itu kita membangun kawasan industri tanahnya murah sekali, dan itu adalah prototipe kawasan industri terbaik di Indonesia saat ini. Kenapa? Karena harganya murah, 350 meter dari tol, ada kereta api kemudian ada pelabuhan dan itu sudah penuh," katanya.

Dia menyebut, ini juga jadi salah satu alasan masuknya perusahaan asal Taiwan Foxconn dan perusahaan asal Korea Selatan LG.

"Jadi Foxconn itu selama berpuluh-puluh tahun, di masa pemerintahan sebelumnya merayu Foxconn gak bisa, cuma pemerintahan pak jokowi InsyaAllah akan masuk di kuartal III," katanya.

"LG itu (nilai investasinya) Rp142 triliun pak, itu terbesar dalam rangka investasi ekosistem EV Battery di dunia. Ini bukan kacang goreng, ini bukan nanti akan. Sudah kemarin tahap kedua implementasinya," tambahnya.

Hal ini jadi perhatiannya terhadap investasi nilai tambah. Diharapkan, mampu berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Reporter: Arief Rahman Hakim

Sumber: Liputan6.com [idr]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel