Menteri: Budaya patriarki tak halangi perempuan sejajar laki-laki

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Bintang Puspayoga menekankan bahwa budaya patriarki tidak bisa menghalangi masa depan yang dimiliki oleh perempuan sejajar dengan laki-laki.

“Dengan budaya patriarki yang sudah mengakar di kita, tidak ada yang bisa menutup kesempatan bagi perempuan untuk menjadi pemimpin,” katanya dalam keterangan di Jakarta, Rabu.

Ia menekankan sudah saatnya Indonesia mengakhiri budaya patriarki di era globalisasi seperti saat ini.Pada zaman ini, perempuan mempunyai kesempatan yang sama dalam menggapai impian dan layak mendapatkan kehidupan yang setara dengan laki-laki.

Hal itu juga telah diatur di dalam Undang-Undang 1945 yang menyatakan bahwa setiap warga negara mempunyai hak yang sama baik itu laki-laki maupun perempuan. Capaian itu, dicontohkannya melalui sosok Puan Maharani yang dapat menjadi Ketua DPR RI perempuan pertama di Indonesia.

Oleh karenanya, Menteri PPPA meminta setiap perempuan untuk mulai memikirkan masa depannya, dan tidak menyia-nyiakan waktu untuk belajar dan mendapatkan kehidupan yang lebih baik di masa depan.

Kepala BKKBN Hasto Wardoyo mengatakan pada masa kini, perempuan memiliki daya saing yang kuat dan dapat dikatakan tak kalah dari laki-laki.

Apalagi di Indonesia, proporsi penduduk 64 persennya diisi oleh usia produktif di mana perbandingan remaja laki-laki dan perempuannya seimbang dengan 50 banding 50.

Melalui Forum Generasi Berencana (Genre) Indonesia, Hasto berharap lahir remaja-remaja Indonesia yang tangguh dan berdaya saing, terutama kepada remaja perempuan yang kelak akan hamil dan melahirkan. Dirinya optimis Genre mampu menjalankan fungsinya dengan baik, sehingga tidak akan ada lagi lahir bayi stunting.

“Dengan Forum GenRe ini saya yakin akan melahirkan generasi yang sehat, cerdas dan ceria serta menjadi sumber daya manusia unggul dan maju,” demikian Hasto Wardoyo.

Baca juga: Menteri PPPA: Perempuan masih temui tantangan akibat budaya patriarki

Baca juga: Patriarki masih jadi tantangan dalam meningkatkan kualitas keluarga

Baca juga: Objektifikasi diri perempuan sebagai dampak budaya patriarki

Baca juga: Menteri Yohana mengajak masyarakat buang budaya patriarki