Menteri: Budi daya rumput laut Sidoarjo bisa penuhi pasar ekspor

·Bacaan 2 menit

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menyatakan optimismenya bahwa program Kampung Budidaya Rumput Laut di Sidoarjo, Jawa Timur, ke depannya juga bakal membuat komoditas rumput laut dari Sidoarjo bisa memenuhi pasar ekspor global.

Menteri Trenggono dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu, menyatakan optimismenya bahwa hasil budi daya rumput laut di tiga desa yakni Desa Kupang, Desa Kedungpandan, Desa Permisan mampu menembus pasar ekspor seiring tingginya permintaan rumput laut di pasar global.

Apalagi, Menteri Kelautan dan Perikanan mengingatkan bahwa rumput laut sendiri termasuk dalam komoditas unggulan ekspor perikanan Indonesia.

"Yang penting dan yang harus diperhatikan adalah kesejahteraan para masyarakat pembudidaya, kita juga akan hadirkan BLU untuk dapat membantu mengatasi kendala yang dirasakan dari para pekerja," tegas Trenggono.

Kampung Budidaya Rumput Laut telah dicanangkan di Desa Kupang, Kecamatan Jabon, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur, 20 April 2022.

Pencanangan kampung budi daya rumput laut yang merupakan program terobosan KKP ini diyakini dapat mendukung optimalisasi peningkatan kesejahteraan masyarakat pembudidaya di daerah.

Kampung Budidaya Rumput Laut di Kecamatan Jabon memiliki luasan areal polikultur sekitar 750 hektare yang dijalankan oleh 167 pelaku utama Rumah Tangga Pembudidaya (RTP). Di dalamnya juga terdapat kegiatan budidaya bandeng dan udang.

Komoditas unggulannya yaitu jenis Gracilaria sp. atau rumput laut merah yang memiliki nilai ekonomi tinggi untuk keperluan industri modern baik itu di bidang pangan maupun nonpangan.

Disebutkan pula total produksi rumput laut di sana mencapai 200 – 500 ton per bulan dengan harga jual kurang lebih Rp6.000/kg. Perputaran ekonomi di Kampung Budidaya Rumput Laut Kecamatan Jabon sekitar Rp1,2 sampai Rp3 miliar per bulan.

Dengan mengusung konsep corporate farming, pencanangan Kampung Budidaya Rumput Laut di Kecamatan Jabon ditargetkan menjadi pemicu tumbuhnya kegiatan ekonomi turunan, di antaranya usaha pengolahan.

Ia juga mengemukakan bahwa konsep itu dilaksanakan dengan menyinergikan berbagai potensi untuk mendorong berkembangnya sistem usaha perikanan budidaya yang berdaya saing dan berkelanjutan.

“Hasil utama tambak ini harus terus dikembangkan, supaya tambak ini bisa menjadi contoh kampung budidaya yang semakin meningkat produktivitasnya. Untuk itu KKP melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya melakukan pendampingan teknologi pada kegiatan polikultur tersebut untuk meningkatkan nilai tambah,” kata Menteri Trenggono.

Baca juga: Kemenperin pacu hilirisasi rumput laut tingkatkan pasar ekspor
Baca juga: Tekan impor, KKP dorong inovasi rumput laut
Baca juga: KKP transfer teknologi kemasan "biodegradable" rumput laut ke UKM

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel