Menteri Erick: Bahkan Bibit pun Ada Mafianya

·Bacaan 2 menit

Merdeka.com - Merdeka.com - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir menyebut, adanya mafia bibit yang merugikan petani di Indonesia. Dia pun mengerahkan perusahaan pelat merah untuk menjamin kualitas bibit petani.

Salah satunya melalui pendampingan dari PT Pupuk Indonesia, hingga penjaminan oleh asuransi Jasindo. Di sisi lain, ditopang pembiayaannya oleh bank-bank pelat merah.

"PT Pupuk Indonesia mendampingi memberikan pupuk tepat waktu bibit yang benar. Karena bibit pun ada mafianya. Banyak petani mendapatkan bibit yang hybrid yang salah sehingga ketika tumbuh tidak menghasilkan yang baik," katanya dalam Kuliah Umum di Universitas Padjadjaran, Sabtu (23/4).

Sementara itu, BUMN juga memiliki peran tambahan dengan menyerap hasil tani tersebut. "Kita juga memberikan asuransi gagal panen kalau petaninya gagal panen, asuransinya ada jasindo yang paling penting, BUMN bersama swasta kita menjadi offtaker daripada hasil para petani ini di jagung kopi kelapa sawit dan gula tebu," katanya.

Namun, dia menyadari langkah ini belum mampu menggapai seluruh sektor. Tapi, di beberapa sektor dia sebut capaian program Makmur ini ditarget menuju 200.000 hektar.

"Memang belum bisa semua, belum bisa cabai belum bisa bawang. Karena memang kita korporasi kita harus mencari dana kita sendiri. Alhamdulillah dari target 50 ribu hektar, sekarang sudah 80 ribu hektar dan menuju 200 ribu hektar," tuturnya.

"Nah ini kita bisa buktikan bahwa kalau kita mau membangun ekosistem kita, kita berpikir keras kita ada jalan ini kita pikir BUMN sustain terus ke depan menjadi perusahaan yang kompetitif," imbuh dia.

Kondisi Pangan Terancam

terancam
terancam.jpg

Menteri Erick mengakui kondisi pangan saat ini tengah mengalami ancaman. Maka, upaya yang bisa dilakukan menurutnya adalah mendampingi petani. Caranya melalui program Makmur.

"Selama ini petani adalah objek, sekarang petani adalah subjek yang harus kita pastikan, kenapa? Tadi saya sampaikan pangan akan jadi ancaman. Karena itu kita punya program makmur dimana petani mendapat pembiayaan dari bank-bank himbara, mandiri, BRI, Bank Syariah Indonesia," katanya.

Menteri Erick menilai kondisi lingkungan di dunia saat ini juga mengalami sejumlah faktor penghambat. Yang paling jadi perhatian yakni adanya perubahan iklim yang terus membayangi kegiatan di dunia.

Dia menyebut, salah satu contohnya dengan adanya krisis pangan yang terjadi saat ini akibat dari cuaca yang tak menentu. Meski, saat ini masih terganggu akibat pandemi Covid-19.

Tantangan terakhir yang saat ini berdampak cukup besar terhadap sebagian negara-negara maju di dunia adalah dampak dari perang Rusia-Ukraina. Kondisi geopolitik ini berdampak secara langsung terhadap kenaikan harga komoditas di dunia, termasuk Indonesia yang terkena imbasnya.

"Ini akan memperlambat recovery, tambahan 2 tahun lagi prediksinya," katanya.

Reporter: Arief Rahman

Sumber: Liputan6 [bim]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel