Menteri ESDM Minta Pengembangan Kendaraan Listrik Libatkan Bengkel UMKM

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah menaruh target penggunaan kendaraan listrik berbasis baterai sebagai kendaraan massal. Merespon hal tersebut, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral telah merilis Pilot Project Program.

Menteri ESDM, Arifin Tasrif mengingatkan, dalam pelaksanaan program ini kedepannya perlu memperhatikan bengkel-bengkel UMKM dan sekolah kejuruan di bidang mesin.

“Kita harus kembangkan ke tingkat UMKM, ini adalah tantangan kedepan, sehingga kita bisa berbagi teknologi,” katanya dalam Launching Pilot Project Program di Bogor, Rabu (18/8/2021).

Diketahui, program ini sebagai salah satu upaya lanjutan guna mencapai tujuan penggunaan kendaraan listrik sebagai sarana transportasi massal. Pada program ini akan berfokus pada penelitian dan konversi kendaraan bermotor, khususnya roda dua.

Jadi, sepeda motor bertenaga BBM yang sudah habis nilai masa pakainya akan dikonversi menggunakan tenaga listrik. Artinya, badan kerangka kendaraan masih akan digunakan, sementara mesin penggeraknya akan diubah.

Lebih lanjut ia mengatakan, kedepannya masyarakat tak perlu lagi membeli motor baru, namun bisa memanfaatkan motor lamanya. Kendati demikian, ia mengingatkan untuk menumbuhkan tingkat ekonomi masyarakat, perlu diciptakan pasarnya.

“Tadi disampaikan 2030 kita harus bisa konversi 1,3 juta unit sepeda motor, ini bisa gak kita lakukan,” katanya.

Biaya Konversi

Ia menambahkan, dengan mengonversi kendaraan dalam skala besar, akan membuat biaya konversi dan biaya yang dihabiskan untuk komponen pendukung menjadi lebih murah dan efisien.

Ia menilai, meski biaya konversi untuk satu kendaraan saat ini mencapai Rp 10 juta, tapi hasilnya cukup bagus.

“Masuk bengkel keadaan butut, keluar udah lebih mulus, dan pantas juga dipajang di forum,” katanya.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Industri Komponen

Mobil BMW i8 Roadster, i8 Coupe dan BMW i3s mengawal konvoi mobil listrik jelang jadwal pelaksanaan balap mobil listrik atau Formula E 2020 di kawasan Sudirman, Jakarta, Jumat (20/9/2019). Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menaiki mobil listrik berjenis BMW i8 roadster. (Liputan6.com/Fery Pradolo)
Mobil BMW i8 Roadster, i8 Coupe dan BMW i3s mengawal konvoi mobil listrik jelang jadwal pelaksanaan balap mobil listrik atau Formula E 2020 di kawasan Sudirman, Jakarta, Jumat (20/9/2019). Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menaiki mobil listrik berjenis BMW i8 roadster. (Liputan6.com/Fery Pradolo)

Dengan demikian, ia menyarankan untuk membangun komunikasi dengan industri komponen pendukung, seperti baterai dan mesin tenaga listrik.

“Saran saya coba kita bicara ke industri komponen, bagaimana agar melihat ada potensi pasar (yang cukup) besar, sehingga dia bisa tingkatkan produksi ke skala besar,” katanya.

Dengan peningkatan skala produksi dan penekanan biaya tersebut, Arifin berharap hal tersebut bisa mendorong masyaratkan untuk memanfaatkan motor modifikasi tersebut.

“Mudah-mudahan ini bisa mempercepat eletrifikasi kedepan di indonesia,” kata Arifin.

Lebih Hemat

Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal EBTKE Dadan Kusdiana mengatakan, kendaraan yang telah dikonversi menjadi kendaraan listrik mampu menghemat biaya yang dikeluarkan dalam satu bulan. “Kalau dihitung, bahwa pengehematan secara rupiah sekitar Rp 125 ribu perbulan,” katanya.

Bahkan, lebih menarik lagi, kata Dadan, ada peningkatan tenaga dari motor yang sebelum dikonversi dan setelah dikonversi.

“Contohnya, jenis motor honda merek revo itu sebelum dikonversi powernya 4,5 HP, dikonversi naik jadi 5,4 HP. Meski motor tersebut masa nilainya sudah habis, karena telah digunakan sekitar 5-6 tahun,” katanya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel