Menteri ESDM paparkan dekarbonisasi Indonesia saat lawatan ke Sydney

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) ,Arifin Tasrif, memaparkan program dekarbonisasi Indonesia saat menghadiri Forum Energi Sydney di Australia, yakni sebuah inisiatif untuk peningkatan kerja sama sektor energi antar negara Indo-Pasifik.

"Seperti negara lain, Indonesia dianugerahi dengan banyak sumber energi yang tersebar di seluruh negeri. Kami memiliki banyak sumber, oleh karena itu kami membutuhkan alat yang tepat untuk mencapai target net zero emission pada tahun 2060. Dalam jangka pendek, Indonesia berencana untuk mengimplementasikan dekarbonisasi," ujarnya dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Selasa.

Arifin menjelaskan bahwa Indonesia melakukan berbagai upaya untuk menerapkan program dekarbonisasi melalui konversi energi fosil menjadi energi bersih. Langkah pertama yang dilakukan adalah menggantikan pembangkit listrik tenaga diesel di daerah yang tergolong dalam daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) dengan pembangkit listrik tenaga gas dan energi terbarukan.

Tak hanya itu, Indonesia juga melaksanakan proyek pencontohan untuk teknologi penangkapan karbon, konversi kendaraan berbahan bakar fosil menjadi kendaraan listrik, pemanfaatan peralatan rumah tangga listrik, dan implementasi pensiun pembangkit batu bara.

"Di sisi lain, teknologi solar fotovoltaik juga penting untuk dikembangkan guna meningkatkan pangsa energi terbarukan dalam bauran energi Indonesia. Industri pendukung diperlukan untuk pengembangan ini dalam rangka meningkatkan tingkat kandungan dalam negeri," kata Arifin.

Lebih lanjut ia menyampaikan bahwa sumber daya Indonesia untuk mendukung peta jalan transisi energi juga berasal dari sumber daya mineral, antara lain nikel, tembaga, bauksit, mangan, timah, dan banyak lagi.

Pemerintah memprioritaskan peningkatan nilai tambah mineral tersebut, misalnya nikel dan kobalt sebagai bahan baku pembuatan baterai untuk kendaraan listrik dan sebagai penyimpan pembangkit listrik energi terbarukan.

Pada kesempatan itu, Menteri Arifin juga mengemukakan tantangan dalam transisi energi terkhusus saat pandemi yang menyebabkan penurunan signifikan konsumsi energi karena larangan bepergian pada awal tahun 2020.

Selain itu, konflik yang terjadi antara Rusia dan Ukraina juga memicu kenaikan harga minyak dunia, dan diikuti oleh kenaikan harga bahan-bahan pokok.

Ia juga mengatakan bahwa Forum Energi Sydney akan menjadi kekuatan untuk mendorong kemitraan energi di kawasan Indo-Pasifik.

"Secara geografis negara-negara di kawasan di Indo-Pasifik terhubung melalui laut. Oleh karena itu perlu dipikirkan kerja sama energi seperti apa yang dapat dilaksanakan dalam waktu dekat, misalnya transmisi interkoneksi melalui pemasangan kabel bawah laut atau pengembangan industri hidrogen hijau sebagai bentuk kerja sama yang berkelanjutan dan konkrit," ujarnya.

Pada 10 Juli 2022, Menteri Arifin didampingi Duta Besar RI untuk Australia dan Vanuatu Siswo Pramono, Konsul Jenderal RI Sydney Vedi Kurnia Buana, dan Kepala Indonesia Investment Promotion Center (IIPC) Sydney Henry Rombe melakukan pertemuan dengan perwakilan perusahaan Indonesia di Sydney, yakni Energy Indonesia dan Stanmore Resources (Sinarmas Grup) di Wisma Konsulat Jenderal RI di Sydney, Australia.

Arifin menyampaikan apresiasi atas perluasan bisnis Adaro dan Stanmore di Australia. Ia menekankan bahwa tren batu bara dalam beberapa tahun ke depan akan mulai surut seiring dengan transisi energi global menuju energi bersih.

"Maka dari itu, kami mendorong Adaro dan Stanmore untuk turut mengembangkan critical minerals yang dapat mendukung proses transisi energi ke depan," ucap Arifin.

Dalam pertemuan itu, perwakilan Stanmore menyampaikan bahwa Stanmore telah mendatangkan dua tenaga ahli insinyur pertambangan dari Indonesia, pengalaman dan pengetahuan mereka sangat diapresiasi di Australia.

Oleh karena itu, diharapkan ke depannya dapat semakin banyak lagi tenaga kerja insinyur pertambangan yang dapat bekerja Australia. Sementara itu, perwakilan Adaro menambahkan bahwa pengalaman selama di Australia juga dapat memperkaya para insinyur pertambangan Indonesia dan akan bermanfaat untuk pengembangan industri pertambangan di Indonesia.

Baca juga: RI dukung global tekan emisi karbon subsektor minerba melalui EBT
Baca juga: Kemenperin-Kementerian ESDM perkuat industri hijau Indonesia

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel