Menteri ESDM paparkan peran penting gas alam dalam transisi energi

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengatakan peran gas alam dalam konteks energi rendah karbon sangat penting sebagai energi transisi sebelum dominasi bahan bakar fosil beralih ke energi terbarukan dalam jangka panjang.

"Tentu saja transisi energi ini akan dilakukan dalam beberapa tahap dengan mempertimbangkan daya saing, biaya, ketersediaan, dan keberlanjutan," ujar Menteri ESDM Arifin Tasrif pada Pameran dan Konvensi Indonesian Petroleum Association (IPA) ke-46 di Jakarta, Rabu.

Menteri Arifin menjelaskan strategi untuk mencapai keseimbangan antara peningkatan produksi minyak dan gas bumi serta target emisi karbon memerlukan inovasi teknologi rendah emisi, misalnya melalui penerapan CCUS (Carbon Capture, Utilizaton and Storage).

Saat ini ada 14 proyek CCS/CCUS di Indonesia, namun semua kegiatan masih dalam tahap studi maupun persiapan. Proyek-proyek itu sebagian besar ditargetkan onstream sebelum tahun 2030.

Baca juga: Menteri ESDM bakal lakukan eksplorasi untuk tingkatkan produksi migas

Pemerintah Indonesia menyatakan salah satu proyek menjanjikan yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat adalah Tangguh Enhanced Gas Recovery (EGR) dan CCUS.

Proyek itu bertujuan untuk mengurangi emisi karbon sekitar 25 juta ton karbon dioksida hingga tahun 2035 serta meningkatkan produksi hingga 300 BSCF hingga 2035. Tangguh EGR/CCUS dapat menjadi role model pengembangan gas di Indonesia ke depan.

Arifin menyampaikan pemerintah kini sedang menyusun Peraturan Menteri tentang CCS/CCUS. Pada langkah pertama, fokus utama adalah mengatur CCS/CCUS untuk Enhanced Oil Recovery, EGR, atau Enhanced Coal Bed Methane di wilayah kerja minyak gas bumi.

"Kami masih memfinalisasi draf dan peraturan ini menjadi salah satu prioritas kami,” kata Menteri ESDM itu.

Baca juga: Pemerintah ungkap strategi tingkatkan penggunaan energi terbarukan

Berdasarkan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), konsumsi minyak Indonesia diproyeksikan meningkat sebesar 139 persen dan konsumsi gas bumi meningkat hampir 300 persen. Hal itu didasari proyeksi pertumbuhan penduduk lebih dari 23 persen menjadi hampir 350 juta jiwa dalam 30 tahun ke depan.

Saat ini anggota G20 dan negara-negara di dunia telah menetapkan target pencapaian netralitas karbon sejalan dengan Perjanjian Paris.

Dalam dokumen Nationally Determined Contribution (NDC), Indonesia menargetkan penurunan emisi hingga 29 persen dengan upaya sendiri dalam delapan tahun ke depan atau hingga 41 persen dengan bantuan internasional.

Menteri Arifin optimistis industri migas dapat mengatasi semua tantangan dengan menerapkan semua teknologi yang dapat lebih membantu untuk mengurangi emisi gas rumah kaca menuju netralitas karbon melalui kerja sama internasional.

Baca juga: Industri minyak dan gas bumi fokus turunkan emisi karbon
Baca juga: Menteri ESDM: EBT berperan besar turunkan emisi sektor energi