Menteri ESDM: RI kembangkan skema bisnis baru, dongkrak EBT panas bumi

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan pembangkit Energi Baru Terbarukan (EBT) terus mengalami peningkatan selama lima tahun terakhir dengan kapasitas terpasang saat ini telah mencapai 12 gigawatt.

Menteri ESDM Arifin Tasrif mengatakan pembangkit listrik tenaga panas bumi menyumbang sekitar 2,2 GigaWatt (GW) dan masih terus dikembangkan melalui skema bisnis baru untuk mempercepat program transisi energi.

"Pembangkit panas bumi diperkirakan akan mencapai 22 GW yang didorong dengan pengembangan skema bisnis baru. Inovasi teknologi yang kompetitif dan terjangkau, antara lain deep drilling geothermal development, enhance geothermal system, dan offshore geothermal development," ujar Menteri ESDM Arifin Tasrif dalam forum pertemuan ilmiah tahunan The 8th Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) 2022 di Jakarta, Rabu.

Pemerintah Indonesia telah menetapkan peta jalan jangka menengah terkait penambahan EBT melalui Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN tahun 2021-2030.

Dalam peta jalan itu, lanjutnya, penambahan EBT ditargetkan mencapai 20,9 GW atau setara 51,6 persen dari total pembangkit listrik yang dibangun oleh PLN.

Baca juga: Forum IIGCE 2022 kumpulkan para pemangku kepentingan panas bumi

Menteri Arifin menyampaikan pembangkit listrik tenaga panas bumi ditargetkan mencapai 3,3 GW pada 2030. Pemerintah telah menyiapkan beberapa strategi untuk mendongkrak listrik panas bumi, antara lain adanya government drilling program yang menyediakan geothermal fund, sinergi BUMN, dan optimalisasi sumber daya ground field.

Lebih lanjut ia mengungkapkan upaya meningkatkan dan mempercepat pengembangan energi bersih menuju transisi energi akan membutuhkan beragam teknologi dan dukungan keuangan dari berbagai entitas yang meliputi pemerintah, organisasi internasional, lembaga keuangan, bisnis, serta para filantropi.

Akses penggunaan dan pemanfaatan teknologi juga harus dibuat lebih inklusif. Oleh karena itu, kata dia, akses dan pembiayaan yang terjangkau harus dijajaki secara masif.

"Saat ini Indonesia ada dua skema pembiayaan panas bumi yaitu geothermal energy uptstream development project dan geothermal resource risk mitigation yang merupakan kerja sama antara Kementerian Keuangan, PT SMI, dan Bank Dunia," kata Menteri ESDM Arifin Tasrif.

Baca juga: Indonesia berpotensi jadi pusat industri panas bumi skala global
Baca juga: Kementerian ESDM kumpulkan pendapatan dari panas bumi Rp1,92 triliun