Menteri ESDM Sebut Indonesia Butuh Cadangan Energi hingga 1 Juta Barel

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Energi, Sumber Daya dan Mineral, Arifin Tasrif mengatakan Indonesia memang memiliki banyak sumber daya energi yang cukup banyak. Namun mengingat kebutuhan energi di masa depan yang semakin meningkat, maka diperlukan sumber energi cadangan.

"Kita masih memerlukan lagi biaya eksplorasi untuk menggali cadangan minyak mengingat di masa depan kita membutuhkan cadangan yang besar," kata Arifin dalam Peluncuran Buku An Introduction into the Geology of Indonesia oleh Prof. Dr. R. P. Koesoemadinata, Jakarta, Senin (16/11).

Dia melanjutkan, untuk keperluan di masa depan Indonesia membutuhkan sumber cadangan baru sebesar 1 juta barel. "Mengingat konsumsi kita kedepan semakin besar, kita butuh 1 juta barel (sumber cadangan energi)," sambungnya.

Selain itu, eksplorasi juga masih sangat diperlukan karena produksi migas Indonesia mengalami penurunan. Sebab, belum lagi ditemukan sumber energi baru setelah ditemukannya cadangan Blok Cepu di Jawa Timur.

"Lapangan migas yang sudah tua dan belum ditemukannya sumber energi yang besar setelah menemukan cadangan Blok Cepu," kata dia.

Berdasarkan data energi saat ini, Indonesia memiliki cadangan minyak bumi sebesar 33,7 miliar barel. Gas bumi sebesar 77,3 triliun kubik grid. Sementara batubara masih ada 37,6 miliar ton.

Reporter: Anisyah Al Faqir

Sumber: Merdeka.com

Indonesia Tertinggal Jauh Dibanding Vietnam dan Thailand soal Energi Bersih

Teknisi melakukan pemeriksaan instalasi panel surya di Masjid Istiqlal, Jakarta, Kamis (3/9/2020). Sebanyak 506 panel surya dengan kapasitas untuk pencahayaan area masjid dengan total daya sebesar 150.000 watt atau setara dengan daya 115 rumah dengan langganan 1300 watt. . (merdeka.com/Imam Buhori)
Teknisi melakukan pemeriksaan instalasi panel surya di Masjid Istiqlal, Jakarta, Kamis (3/9/2020). Sebanyak 506 panel surya dengan kapasitas untuk pencahayaan area masjid dengan total daya sebesar 150.000 watt atau setara dengan daya 115 rumah dengan langganan 1300 watt. . (merdeka.com/Imam Buhori)

Pengamat Ekonomi Energi dari Universitas Indonesia (UI) Berly Martawardaya menilai, pemerintah di bawah kendali Presiden Joko Widodo (Jokowi) sejauh ini belum optimal dalam mewujudkan cita-cita pembangunan ekonomi yang berbaur dengan energi bersih atau ramah lingkungan.

Menurut dia, Indonesia saat ini masih banyak mengandalkan produksi batu bara yang jadi sumber utama emisi gas rumah kaca atau emisi karbon.

"Proporsi batu bara Indonesia itu paling tinggi di antara negara-negara ASEAN. Padahal yang lain bisa berubah, bisa mengurangi dengan cukup cepat," kata Berly, Jumat (13/11/2020).

Di sisi lain, ia mengungkapkan, Indonesia juga masih jauh tertinggal dalam menciptakan sumber listrik dari sumber energi bersih, seperti pembangkit listrik tenaga Surya (PLTS) ataupun pembangkit listrik tenaga Bayu (PLTB).

Terlebih jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Vietnam dan Thailand, yang menjadi juara di kawasan ASEAN dalam melakukan transformasi bauran energi, termasuk pembangunan PLTS dan PLTB.

Vietnam dalam hal ini menjadi yang terdepan, dimana negara tersebut dalam satu tahun mampu meningkatkan kapasitas sumber energi hingga 20 kali lipat. Sementara Thailand dalam 2 tahun terakhir bisa terdongkrak 4 kali lipat, dari 500 megawatt (MW) menjadi 2 gigabyte (GB)

"Kita bisa belajar lah, jangan malu buat belajar. Jadi kita enggak usah se-Vietnam, se-Thailand aja udah lumayan," imbuh Berly.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: