Menteri Investasi Tawarkan KIT Batang ke Investor Inggris

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Menteri Investasi yang juga Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bahlil Lahadalia memastikan, saat ini, Indonesia telah memiliki kawasan industri terpadu (KIT) Batang yang dinilai amat prestisius. Dia pun begitu antusias sejumlah keunggulan dari KIT Batang di hadapan pengusaha asal Inggris.

"Teman-teman pengusaha di Inggris, bahwa di Indonesia telah membangun kawasan industri yang berskala besar. Yaitu di Batang," ungkapnya dalam acara Indonesia Investment Forum 2021, Kamis (27/5/2021).

Pertama, KIT Batang telah mempunyai infrastruktur penunjang yang lengkap dan matang. Dengan demikian, siap menunjang operasional industri di dalamnya.

"Sebab, hanya 350 meter dari tol, kemudian punya airpot internasional, kemudian punya port yang luar biasa," antusiasnya.

Tak hanya itu, KIT Batang juga sudah dilengkapi oleh moda Kereta Api. Sehingga, infrastruktur di dalamnya dipastikan sudah benar-benar matang.

"Infrastrukturnya sudah bagus," tekannya.

Selanjutnya, dia juga menjamin harga tanah di kawasan industri wilayah Jawa Tengah tersebut murah. Mengingat, adanya campur tangan pemerintah untuk andil besar dalam menyediakan lahan industri murah guna menggaet investor.

"Saya jamin tanah di sini (KIT Batang) lebih murah. Dan clear and clean. Nanti pemerintah di bawah Kementerian Investasi dan BKPM akan membantu bapak ibu semua. Saya fikir ini yang dapat saya sampaikan," bebernya.

Ajak Investor Bawa Teknologi

Kepala BKPM Bahlil Lahadalia (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)
Kepala BKPM Bahlil Lahadalia (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Selain itu, Bahlil Lahadalia mengajak investor asing untuk datang ke Indonesia cukup hanya membawa teknologi dan modal. Sebab, untuk perizinan dan lokasi industri sepenuhnya akan diurus oleh pemerintah.

"Dengan tagline yang baru, silakan investor bawa teknologi, capital dan sebagian modal. Nanti izinnya, lokasi industrinya biarlah negara yang ikut hadir mengurusnya," ungkapnya.

Bahlil mengungkapkan, cara baru tersebut sengaja dihadirkan sebagai bentuk komitmen pemerintah untuk memperbaiki iklim investasi di Indonesia. Selain itu, terobosan itu perlu dihadirkan untuk meningkatkan hubungan yang lebih baik antara pemerintah dan investor.

"Ini adalah sebuah kerja sama yang baik antara pelaku usaha dengan pemerintah," jelasnya.

Menurutnya, banyak alasan untuk menjadikan Indonesia sebagai negara tujuan investasi. Pertama adalah pertumbuhan ekonomi yang masih lebih baik dibandingkan negara G20 lainnya.

"GDP Kita nomor dua setelah China," ungkapnya.

Selanjutnya, tren pertumbuhan ekonomi Indonesia juga terus menunjukkan perbaikan sejak mengalami kontraksi akibat pandemi Covid-19 di kuartal II tahun 2020 lalu. Kendati, pertumbuhan negatif masih berlangsung hingga di kuartal I tahun ini.

"Indonesia sendiri di tahun 2020 pertumbuhan ekonomi kita minus 2,19 persen. Dan di kuartal pertama (2021) kita masih minus 0,75. Tetapi pertumbuhan tersebut dibandingkan negara Asia Tenggara masih lebih baik," terangnya.

Kemudian, Indonesia juga mulai aktif melakukan transformasi pemanfaatan energi baru dan terbarukan. Seperti pembangunan green energy melalui power plant.

"Nah, ini juga menjadi daya tarik tersendiri," ucapnya.

Daya tarik terakhir ialah reformasi regulasi. Hal ini tercermin melalui kehadiran Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja (UU Cipta Kerja).

"Undang-Undang (Cipta Kerja) ini memberikan tiga hal penting kepada pengusaha, pengusaha itu membutuhkan kepastian, kemudahan dan efisiensi, dan transparansi," tukasnya.

Reporter: Sulaeman

Sumber: Merdeka.com

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: