Menteri KKP soal Nelayan Alami Kemiskinan Ekstrem: kita Sedang Berjuang

Merdeka.com - Merdeka.com - Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono berkomitmen untuk mengentaskan tingkat kemiskinan pada kelompok nelayan yang berada di kawasan terluar negara. Salah satunya dengan menggandeng pelaku industri.

"Kita sedang berjuang. Tentu salah satunya adalah menghadirkan kemudahan, bagaimana industri bisa hadir. Kalau industri hadir, negara akan mendapatkan PNBP," ujar Menteri Trenggono di Hotel Sultan, Jakarta, Selasa (2/8).

Namun, dia melanjutkan, penyerahan uang negara untuk kesejahteraan nelayan tersebut bukan domain Kementerian Kelautan dan Perikanan. KKP harus meminta izin terlebih dahulu ke Kementerian Keuangan.

"Kalau perlu PNBP kita gunakan untuk membantu nelayan-nelayan tradisional di wilayah-wilayah supaya dapat BBM subsidi," kata Menteri Trenggono.

"Tapi sebetulnya ini bukan hanya nelayan tradisional saja. Nelayan industri juga sama, karena bahan bakarnya naik 100 persen," dia menambahkan.

Kemiskinan Ekstrem

Sebelumnya, Ketua Harian Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Dani Setiawan mengungkapkan, mayoritas nelayan kecil yang bermukim di wilayah pesisir dan terluar berada dalam kondisi kemiskinan ekstrem.

Hal itu diperparah dengan sulitnya kelompok tersebut mendapatkan BBM bersubsidi berupa solar sebagai bekal untuk memperoleh hasil perikanan.

"Mayoritas 70 persen tinggal di wilayah pesisir, jadi populasi kemiskinan ekstrem diakibatkan karena beban/ongkos nelayan kecil sangat besar untuk beli BBM," kata Dani beberapa waktu lalu.

Adapun berdasarkan hasil survei yang dilakukan KNTI bersama Koalisi KUSUKA Nelayan pada 2020 dan 2021, ditemukan sebanyak 82,8 persen nelayan kecil tidak memiliki akses terhadap BBM bersubsidi.

Dani menyebut, itu disebabkan lantaran minimnya infrastruktur stasiun pengisian solar atau Solar Pack Dealer Nelayan (SPDN) di kawasan pesisir. Alhasil nelayan kecil terpaksa membeli BBM bersubsidi ke pengecer dengan harga lebih tinggi.

"BBM solar kan Rp 5.100 (per liter). Di pesisir bisa Rp 6-7 ribu, bahkan di daerah terluar bisa Rp 10.000 (per liter)," ucapnya.

Reporter: Maulandy Rizky Bayu Kencana

Sumber: Liputan6.com [idr]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel