Menteri Luar Negeri Jerman Sebut Lebanon Perlu Reformasi

Mohammad Arief Hidayat, DW Indonesia
·Bacaan 1 menit

Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas hari Jumat (7/8) memperingatkan destabilisasi lebih lanjut di Lebanon setelah ledakan dahsyat di pelabuhan Beirut yang menewaskan lebih dari 140 dan melukai lebih 5.000 orang lainnya.

"Tidak ada negara yang bisa mengatasi bencana seperti ini sendirian," kata Heiko Maas kepada surat kabar Jerman, Saarbrücker Zeitung, dan menyebutkan bahwa bantuan dari Jerman dan Uni Eropa sudah mengalir ke Lebanon.

"Di Uni Eropa dan internasional, kami perlu mempertimbangkan bagaimana kami dapat memberikan bantuan," kata menlu Jerman itu. Dia juga mengungkapkan kritik terhadap manajemen pemerintah Lebanon, yang menurut banyak orang mengarah langsung ke penyimpanan bahan kimia berbahaya yang menyebabkan ledakan.

"Di Lebanon, kepemimpinan politik belum berhasil melewati reformasi yang sangat dibutuhkan di sektor ekonomi dan keuangan," kata Heiko Maas dan menambahkan bahwa reformasi di antara kelas-kelas politik di negara itu tidak mungkin hanya dari kekuatan luar.

“Perlu ada keinginan nyata untuk reformasi (dari kepemimpinan negara),” katanya.

Para pengunjuk rasa kembali ke jalan

Heiko juga menjanjikan bantuan "cepat, terarah dan tidak birokratis" dari Jerman untuk membersihkan puing-puing kehancuran. Palang Merah Jerman telah mengirim uang dan tim penanggulangan bencana. Kedutaan Jerman di Beirut termasuk di antara gedung-gedung yang mengalami kerusakan dalam ledakan itu, di mana seorang pekerja kedutaan dikabarkan tewas.

Upaya penyelamatan terus dilakukan dan tim penyelamat masih menemukan korban di bawah reruntuhan pada Jumat pagi.

Tapi sekelompok kecil pengunjuk rasa turun juga turun lagi ke jalan, menyerukan agar pemerintah bertindak adil dan menegakkan hukum. Kritikus mengatakan korupsi dan ketidakmampuan di kalangan pejabat tingkat tinggi adalah akar bencana di Lebanon.

Puluhan ribu orang juga menandatangani petisi yang menyerukan agar Prancis mengambil alih administrasi di Lebanion untuk sepuluh tahun.

Ketidakpuasan tumbuh dalam beberapa tahun terakhir karena krisis ekonomi skala besar, diperburuk oleh pandemi virus corona.

hp/as (dpa, afp, ap)