Menteri PPN : Pembangunan jembatan layang Sitinjau Laut dimulai 2022

Budi Suyanto
·Bacaan 2 menit

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa menyampaikan pembangunan jembatan layang Sitinjau Laut yang merupakan jalan nasional menghubungkan Padang dengan Jambi akan dimulai pada 2022 dengan anggaran sebesar Rp1,28 triliun.

"Pembangunan jembatan layang Sitinjau Laut merupakan salah satu proyek utama yang masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional dari 35 proyek nasional besar yang ada di beberapa daerah saat ini," kata dia di Padang, Kamis.

Ia menyampaikan hal itu saat meninjau jalur Sitinjau Laut didampingi Gubernur Sumbar Mahyeldi, Wakil Gubernur Sumbar Audy Joinaldy dan sejumlah pejabat terkait.

Menurut dia jembatan layang Sitinjau Laut masuk dalam proyek nasional karena kondisinya yang strategis sehingga perlu dibangun jembatan layang untuk memastikan keselamatan lalu lintas.

"Manajemen keselamatan transportasi itu diatur oleh Bappenas," kata dia.

Baca juga: Menteri PPN : Ibu kota baru bantu geliatkan ekonomi

Ia menyampaikan sejak 2012 sebenarnya sudah ada studi kelayakan dan saat ini pihaknya melakukan ulasan .

"Saya berharap agak cepat dilakukan , tahun depan peletakan batu pertama dan 2024 sudah selesai," kata dia.

Sementara Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi bersyukur dan berbangga atas kedatangan Menteri Kabinet Indonesia Maju ke Sumbar dalam rangka mempercepat pembangunan dan kesejahteraan masyarakat.

"Kemaren bersama Wapres RI ada Menteri Perdagangan, Wakil Menteri PUPR, Wakil Menteri Kesehatan dan hari ini Menteri PPN/Bappenas yang telah memberikan motivasi dalam menggairahkan kemajuan pembangunan di Sumbar," kata dia.

Ia mengatakan pemerintah provinsi bersama komponen pembangunan daerah dan mengajak semua lapisan masyarakat untuk mengawal menyukseskan semua program nasional di Sumbar.

Baca juga: Bappenas targetkan RUU IKN dibahas pada Mei, setelah DPR reses

Jalur Sitinjau Laut yang merupakan jalan nasional menghubungkan Kota Padang dengan Solok dikenal sebagai jalur maut.

Tanjakan yang terbilang ekstrem, turunan tajam, tikungan maut, jurang yang menganga di sisi jalan hingga ancaman longsor dari perbukitan menjadi tantangan yang harus ditaklukan pengemudi.

Tak sedikit sopir yang ciut nyalinya saat harus menjajal tanjakan dengan kemiringan hingga 45 derajat tepatnya di Panorama I yang apabila kondisi kendaraan tak laik maka maut tantangannya.

Akibatnya insiden masuk jurang, kendaraan kehabisan nafas di pendakian, rem blong hingga tertimpa material longsor menjadi fenomena rutin di Sitinjau Laut.

Sebelumnya Pakar transportasi publik Universitas Andalas (Unand) Yosyafra, Phd menilai pembangunan jalan layang di Panorama I dan II di kawasan Sitinjau Laut merupakan solusi mengatasi beratnya jalur tersebut.

"Jalur Sitinjau Laut masuk salah satu yang terberat di Indonesia, tidak semua sopir kendaraan besar bisa melewatinya, apalagi derajat kemiringan lebih dari delapan persen sehingga salah satu solusi adalah membangun jembatan di Panorama I dan II," kata dia

Ia mengatakan jika jembatan selesai akan memudahkan kendaraan berat yang kelebihan dimensi dan muatan.

"Selama ini kerap terjadi kecelakaan karena derajat kemiringan jalan yang tinggi serta kendaraan yang lewat melebihi ukuran dan muatan," ujarnya.

Secara standar jalan, saat ini kawasan Sitinjau Laut sudah memenuhi standar jalan nasional dengan lebar minimal delapan meter.