Menteri Sandiaga: Kenaikan Harga Tiket Masuk Borobudur Ditunda

Merdeka.com - Merdeka.com - Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Salahuddin Uno memastikan, rencana kenaikan biaya masuk Candi Borobudur menjadi Rp 750.000 ditunda. Pemerintah memutuskan untuk mengkajinya kembali.

"Untuk Borobudur, kita Alhamdullilah atas masukan dari semua tokoh masyarakat, tokoh agama, para ahli, keputusan untuk biaya masih ditunda untuk dikaji kembali. Namun tentunya sudah bisa dipastikan bahwa batas daya dukung itu hanya 1.200 per hari," ujar Menparekraf Sandiaga Uno seperti dikutip dari Antara, di Baubau, Sulawesi Tenggara, Rabu (8/6).

Menurutnya, dalam menjaga Candi Borobudur harus melibatkan seluruh elemen. Mulai dari masyarakat, pemerintah dan lain sebagainya.

"Tadi antusiasme masyarakat luar biasa, saya melihat di tempat-tempat lain tidak ada dukungan yang begitu antusias seperti kali ini. Jadi mari sama-sama kita jaga sebagai tatanan sesuai dengan harapan Presiden Joko widodo bahwa pariwisata harus bangkit, ekonomi harus tumbuh, dan lapangan kerja harus terbuka," ujarnya.

menteri sandiaga: kenaikan harga tiket masuk borobudur ditunda
menteri sandiaga: kenaikan harga tiket masuk borobudur ditunda

Candi Borobudur adalah salah satu bangunan bersejarah di Indonesia. Ada banyak sejarah di balik megahnya Candi Borobudur, candi Buddha terbesar di dunia dan salah satu monumen Buddha terbesar di dunia.

Di balik megahnya Candi Borobudur, masih banyak cerita misteri yang masih menjadi tanda tanya. Benar atau tidak, cerita-cerita itu tersebar luas di masyarakat.

Berikut ini beberapa cerita tentang Candi Borobudur dan misterinya yang belum terpecahkah:

Singa Urung

Patung berwujud singa ini berada di sebelah kiri dan kanan tangga masuk candi. Singa urung, atau dalam bahasa Jawa berarti harimau gagal, memiliki mitos yang cukup seram. Menurut mitos yang tersebar, jika ada pengunjung yang menaiki patung dan berkata kasar, maka ia akan didatangi si singa dan selalu dihantui dalam mimpi.

Mitos lainnya, bagi sepasang kekasih yang mendekati Singa urung, maka mereka akan putus atau gagal menikah. Meskipun begitu, ini masih mitos. Belum bisa dibenarkan.

Ada Jam Raksasa


Tak hanya menjadi tempat bersembahyang, Borobudur juga memiliki misteri tentang jam raksasa. Bagaimana cara mengetahuinya?

Candi Borobudur memiliki 72 stupa berbentuk lonceng terbalik. Stupa utama di tengah berfungsi sebagai jarum jam dan stupa kecil di sekelilingnya sebagai penanda. Sinar matahari menghasilkan bayangan untuk stupa besar dan akan melewati stupa-stupa di bawahnya namun masih belum diketahui pasti cara membaca waktu pada jam tersebut.

Namun hingga saat ini, misteri jam raksasa tersebut belum bisa dibuktikan secara ilmiah. Benarkah ada jam itu?

Relief Tersembunyi

Jika pengunjung jeli dengan detil relief Borobudur, mereka akan menemukan sesuatu yang janggal. Ternyata ada relief yang tersembunyi. Relief ini bernama Kamadhatu yang terdiri dari 160 relief adegan Sutra Karmawibhangga atau hukum sebab-akibat.

Tidak banyak yang tahu apa yang tergambar pada relief tersebut. Relief ini sengaja ditimbun, karena menggambarkan perbuatan buruk manusia. Misalnya gambar orang sedang bergosip, membunuh, menyiksa, memerkosa, serta adegan-adegan seksual dalam berbagai posisi. Panel-panel ini kemudian sengaja ditimbun dengan tanah karena reliefnya dianggap vulgar dan cabul.

Menurut Guru besar Fakultas Ilmu Sosial Universitas Indonesia, Edi Sedyawati, Relief di Kamadhatu yang menggambarkan kehidupan manusia sebelum beradab. Hal ini bisa saja terjadi pada masa candi tersebut dibangun. Meskipun begitu, alasan ditimbunnya relief Kamadhatu masih diperdebatkan hingga saat ini.

Danau Purba Candi Borobudur

Kabarnya, tempat yang dibangun Candi Borobudur saat ini adalah bekas danau purba. Hal itu hasil dari penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa doktoral Departemen Geografi Universitas Gadjah Mada, Helmy Murwanto.

Ia mengungkap danau purba itu berusia 10 ribu tahun lalu. Helmy memperkirakan danau tersebut terbentuk pada zaman pleistosen. Menurutnya, danau purba itu hilang akibat mengalami pendangkalan secara alamiah dan intervensi manusia.

Dalam temuannya, Helmy menjelaskan bahwa pendangkalan danau tersebut bisa diamati dari material penutup endapan danau berupa hasil aktivitas vulkanis, tektonis, dan gerakan massa tanah serta batuan. Material penutup tersebut berupa tanah lempung berwarna hitam yang tersingkap oleh proses geomorfologis. [bim]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel