Menteri Sri Mulyani: Banyak Sekali Saat ini Pejabat Keuangan Perempuan

·Bacaan 2 menit

Merdeka.com - Merdeka.com - Stigma perempuan berada selangkah di belakang laki-laki nyatanya tidak hanya berlaku di Indonesia. Banyak negara di dunia yang memandang sebelah mata keberadaan perempuan dalam menjalankan tugas atau pekerjaan tertentu.

Namun, Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebut saat ini sudah banyak perempuan yang membuktikan dirinya layak dan pantas untuk mengemban tugas dan wewenang yang biasanya dilakukan laki-laki.

Misalnya, pada forum Menteri Keuangan dan Bank Sentra Dunia pagi ini di Washington DC yang dipimpin oleh para perempuan dari berbagai negara. Antara lain Managing Director IMF Rustalina sebagai pemimpin rapat dan Menteri Keuangan Spanyol Nadia. Presentasi rapat pagi ini juga dilakukan FSB Ral Bernard dan perwakilan IMF lainnya yang juga perempuan.

"Jadi 4 perempuan hari ini bicara ekonomi dunia dan bagaimana dunia mengelola keuangan di tengah geopolitik yang membuat harga energi dan pangan melonjak tinggi sehingga bisa mengancam pemulihan ekonomi," kata Menteri Sri Mulyani di Washington DC dalam acara Bincang Kartini Masa Kini, Kamis (21/4).

Menteri Sri Mulyani mengatakan secara historis, dunia keuangan biasanya didominasi oleh laki-laki. Jarang perempuan yang memiliki jabatan penting dalam hal keuangan. Namun, saat ini stigma buruk yang melekat pada perempuan perlahan mulai terbantahkan. Banyak perempuan yang menjadi menteri keuangan dan gubernur bank sentral di berbagai negara dunia.

"Banyak sekali sekarang pejabat keuangan yang perempuan. Ada menteri keuangan pertama di Amerika Serikat, Gubernur Bank Sentral di Eropa, Menteri Keuangan di Spanyol, Kanada, India dan Menteri Keuangan Indonesia juga perempuan," kata dia.

Artinya, saat ini sudah banyak perempuan yang terbukti mampu menduduki jabatan yang biasanya hanya dikerjakan oleh laki-laki. Melakukan tugas-tugas penting yang selama ini dipersepsikan sebagai pekerjaan yang selalu dipegang laki-laki.

Persepsi Meremehkan Terjadi di Seluruh Negara

terjadi di seluruh negara rev1
terjadi di seluruh negara rev1.jpg

Menurutnya, persepsi yang terbangun dan diamini sejak dulu, sebuah pekerjaan atau aktivitas dianggap bukan untuk perempuan. Walaupun bisa dikerjakan perempuan, muncul anggapan perempuan tidak mampu. Kalau ternyata mampu dikerjakan dengan baik, maka dianggap perempuan tidak pantas melakukan pekerjaan itu.

"Ini salah satu kendala yang luar biasa waktu kita bicara pemberdayaan perempuan. Banyak hal dalam kehidupan sosial, ekonomi dan politik muncul atau dipatrikan pemikiran ini bukan pekerjaan perempuan atau perempuan tidak pantas, tidak boleh, tidak mampu mengerjakan hal tersebut," tuturnya.

Fenomena ini pun tidak hanya terjadi di Tanah Air, tapi merata di seluruh dunia. Akibatnya perempuan harus bekerja lebih keras untuk memperjuangkan yang menjadi cita-cita dari persepsi, norma, budaya dan bahkan interpretasi agama.

"Ini memberikan batasan mengenai yang dianggap bisa-tidak bisa, boleh-tidak boleh bagi perempuan," katanya.

Padahal kalau ada perempuan yang melakukan itu dan dilakukan dengan baik, seluruh persepsi tersebut akan terbantahkan. Untuk itu dia meminta para perempuan memiliki cita-cita yang tinggi dan mendobrak stigma yang terlanjur melekat. Ambisi yang tinggi juga harus diiringi dengan mengisi kompetensi, ilmu pengetahuan dan keahlian. Terpenting karakter dan sikap

"Jadi jangan gentar, jangan takut. Kendala ini bukan sesuatu yang tidak bisa didobrak," kata dia mengakhiri. [bim]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel