Menteri Sri Mulyani Sindir Rusia-Ukraina: Yang Dunia Butuhkan Sekarang Bukan Perang

Merdeka.com - Merdeka.com - Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati mengatakan, negara-negara dunia seharusnya saling bekerja sama saat ini untuk menghadapi dampak pandemi Covid-19. Mengingat pemulihan ekonomi setiap negara berbeda.

Apalagi konflik yang terjadi antara Rusia dan Ukraina telah membuat kondisi global semakin parah. Harga-harga komoditas dan pangan pun mengalami kenaikan drastis. Karenanya Indonesia siap berkomunikasi dengan berbagai pihak untuk bisa bangkit bersama dari dampak pandemi.

"Kami akan terus membangun jembatan dan kami tidak membangun tembok, karena kami sangat percaya bahwa dunia semakin membutuhkan lebih banyak jembatan dan koneksi, bukan perang dan perang," kata Menteri Sri Mulyani dalam pembukaan 3rd Finance Ministers & Central Bank Governors di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC) I, Nusa Dua, Bali, Jumat (15/7).

Menteri Sri Mulyani menilai negara-negara dunia seharusnya memperkuat semangat multilateralisme. Membangun jaring pengaman untuk kerja sama di masa depan dan memperkuat komitmen untuk kemakmuran global bersama.

Dalam Presidensi G20 ini, Indonesia ingin menjadi jembatan dari ketegangan yang terjadi antara Rusia dan Ukraina. Mengingat ketegangan dua negara ini ini telah membuat harga energi dan pangan melonjak.

"Kami melihat peran kami sebagai broker yang jujur. Kami bertujuan untuk membangun jembatan," kata dia.

Bentuk Lembaga Pembiayaan

pembiayaan
pembiayaan.jpg

Indonesia, kata Menteri Sri Mulyani, telah berkomitmen untuk mengambil tindakan kolektif yang cepat dan menggunakan semua alat yang tersedia untuk mengatasi tantangan ekonomi dan keuangan. Saat ini sudah ada beberapa kemajuan yang signifikan di beberapa bidang.

Salah satunya menuntaskan pembentukan Dana Perantara Keuangan atau Financial Intermediary Fund (FIF). Lembaga ini dibuat untuk memperkuat kapasitas Pembiayaan Kesiapsiagaan, Pencegahan dan Respons (PPR) pandemi di tingkat nasional, regional, dan global dengan fokus pada negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.

"Kami telah sepakat untuk mendirikan sebuah peternakan perantara keuangan baru atau FIF untuk pencegahan, kesiapsiagaan dan respon pandemi yang bertempat di Bank Dunia," tuturnya.

Lembaga baru ini pun telah menghimpun dana sebesar USD 1,1 miliar dari para pendiri. Tiap negara pendiri FIF mendonasikan dana yang berbeda-beda.

Amerika Serikat dan Uni Eropa masing-masing menyumbangkan USD 450 juta atau setara Rp 6,67 triliun. Indonesia menyumbang dana sebesar USD 50 juta atau setara Rp 741,82 miliar. Singapura mendonasikan USD 10 juta atau setara Rp 148,36 miliar.

Kemudian Jerman mendonasikan 50 juta Euro, setara Rp 781,47 miliar. Sedangkan Yayasan Wellcome Trust sebesar 10 juta Poundsterling atau setara Rp 182,15 miliar. [bim]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel