Menteri Trenggono puji kebun pembibitan mangrove di Lombok

Risbiani Fardaniah
·Bacaan 2 menit

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono memuji keberhasilan pengembangan kebun pembibitan mangrove yang dikelola oleh Kelompok Masyarakat Pengelola Ekowisata Mangrove Bagek Kembar, Desa Cendi Manik, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB).

"Pembibitan mangrove yang dilakukan di sini sangat bagus untuk kemudian bisa kita kembangkan lagi," kata Menteri Trenggono, ketika berkunjung ke pembibitan mangrove Bagek Kembar, Desa Cendi Manik, Sekotong, Lombok Barat, Rabu.

Ia mengaku memberi perhatian khusus terhadap pengembangan pembibitan mangrove Bagek Kembar guna mendukung upaya rehabilitasi kawasan hutan mangrove yang rusak, mengingat mangrove sangat besar manfaatnya dalam menyerap karbon yang banyak.

Baca juga: KKP dorong pembangunan pusat informasi ekowisata mangrove Lombok Barat

"Nanti sebelum Lebaran, kami harus menanam bibit mangrove seluas 56 hektare di Pulau Lombok. Salah satu penyuplai bibit dari pembibitan ini," kata Sakti.

Direktur Pendayagunaan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Muhammad Yusuf mengatakan pengembangan kebun pembibitan mangrove merupakan amanat Presiden mengingat hutan mangrove banyak yang rusak dan harus dilakukan rehabilitasi.

"Mangrove menyerap karbon empat kali lebih banyak dibandingkan hutan daratan sehingga kita harus bisa mengembalikan ekosistem mangrove yang rusak menjadi pulih kembali," ujarnya.

Menurut dia, Bagek Kembar adalah satu satu contoh pemberdayaan masyarakat pesisir dengan memanfaatkan potensi ekonomi dari tanaman yang tumbuh di perairan pasang surut tersebut.

Baca juga: Lombok Utara cegah abrasi dengan 5.420 bibit mangrove

KKP melalui Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL) Denpasar Wilayah Kerja NTB sudah memberikan pendampingan kepada Kelompok Masyarakat Pengelola Ekowisata Mangrove Bagek Kembar sejak 2016.

Mangrove tidak hanya bisa dimanfaatkan kayunya saja, tapi ada berbagai produk olahan yang bisa dihasilkan, seperti kopi mangrove, tepung, sirup, kripik dan madu mangrove.

Kawasan hutan mangrove juga bisa menjadi destinasi wisata edukasi dan lokasi penelitian sistem informasi geografis (GIS), serta menjadi tempat pengamatan berbagai jenis burung yang datang dari berbagai negara. Salah satunya di kawasan Ekowisata Mangrove Bagek Kembar.

"Kalau dari aspek KKP, kami akan lebih menyentuh ke ekosistem perairannya, yakni untuk pengembangan kepiting dan kerang kerangan," katanya.

Baca juga: Warga Lombok Barat berikrar menjaga kelestarian mangrove