Menuju Penyempurnaan Data Pangan Indonesia

Dian Lestari Ningsih, ferdinandaritonang
·Bacaan 3 menit

VIVA – Sebelum tahun 2018, data pertanian Indonesia dikumpulkan bersama-sama antara Dinas Pertanian dan Badan Pusat Statistik (BPS) menggunakan metode eye estimate. Instrumen yang digunakan dalam pendataan adalah daftar isian Statistik Pertanian (SP).

Penggunaan metode tersebut ditenggarai menyebabkan overestimate luas panen padi di Indonesia sejak tahun 1997. Mulai tahun 2018, BPS bekerjasama dengan BPPT, Kementerian ATR/BPN, Badan Informasi dan Geospasial (BIG), dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) melakukan penyempurnaan penghitungan luas panen menggunakan metode Kerangka Sampel Area (KSA).

KSA adalah salah satu metode yang memanfaatkan data citra satelit dari LAPAN yang digunakan oleh BIG di dalam mendelineasi peta lahan baku sawah. Peta lahan baku sawah yang telah ditetapkan oleh kementerian ATR/BPN menjadi dasar untuk estimasi luas panen padi

Luas baku sawah ditetapkan oleh kemeneterian ATR/BPN melalui Keputusan Menteri ATR/Kepala BPN No. 686/SK-PG.03.03/XII/2019 tanggal 17 Desember 2019, yaitu sebesar 7.463.948 hektar.

Dari luasan lahan baku sawah tersebut, BPS dan BPPT memilih sampel berdasarkan teknik probability untuk mengetahui besaran luas panen berdasarkan beberapa fase pertumbuhan padi.

Di dalam mengestimasi luas panen padi, KSA membagi luas lahan baku sawah tadi ke dalam segmen dimana setiap segmen terdiri atas 9 subsegmen. Satu segmen memiliki ukuran 300 m x 300 m, sedangkan setiap subsegmen memiliki ukuran 100 m x 100 m.

Setiap bulannya petugas yang ditunjuk sebagai mitra petugas KSA melakukan pengamatan dengan foto kondisi perkembangan padi. Terdapat kode-kode nilai amatan untuk mendefinisikan fase pengamatan padi setiap bulannya seperti vegetatif awal, vegetatif akhir, generatif, panen, persiapan lahan, puso, lahan pertanian bukan padi, dan bukan sawah/lading.

Dari kode hasil pengamatan tersebut, dapat diestimasi luas panen selama 3 bulan ke depan. Mulai dari pertengahan 2019 hingga 2020, terjadi proses transfer knowledge dari BPPT ke BPS.

Proses transisi pengelolaan KSA meliputi penggunaan database sendiri hingga pengembangan dan peyempurnaan aplikasi KSA. Pengembangan baik dari sisi aplikasi, web monitoring, hingga pelaksanaan di lapangan dilakukan untuk mengurangi/meminimalisir berbagai kendala dan hambatan di dalam pelaksanaannya, sehingga data luas panen yang dihasilkan menjadi lebih akurat dan presisi.

Pada tanggal 15 Oktober 2020 lalu, BPS merilis data luas panen, produktivitas dan produksi padi tahun 2020. Angka yang dihasilkan merupakan angka sementara karena data pada periode Oktober-Desember 2020 masih menggunakan nilai potensi.

Dimana data produktivitas menggunakan pendekatan produktivitas pada periode September-Desember 2019, sedangkan luas panen berdasarkan estimasi hasil amatan pada bulan September 2020.

Di dalam menghitung nilai produksi padi di Indonesia, BPS menggunakan 2 pendeketan, yaitu menghitung luas panen berdasarkan survei KSA dan menghitung produktivitas padi melalui survei ubinan.

Nilai produksi didapat dengan menghitung perkalian antara nilai produktivitas dengan luas panen. Hasil perhitungan yang diperoleh masih dalam bentuk Gabah Kering Panen (GKP).

Untuk mengetahui berapa banyak ketersediaan produksi beras di Indonesia, GKP yang dihasilkan akan dikonversi menjadi Gabag Kering Giling (GKG), kemudian dari GKG dikonversi menjadi GKG untuk diolah. Setelah itu akan dikonversi lagi menjadi beras.

Namun, hasil konversi beras tersebut tidak semuanya akan digunakan sebagai bahan pangan. Setelah dilakukan pengurangan terhadap penyusutan dan penggunaan beras untuk non pangan (pakan ternak dan bahan industri) barulah di dapat produksi beras yang akan digunakan sebagai bahan pangan.

Angka konversi dari GKP menjadi GKG dan angka dari GKG menjadi beras diperoleh dari Survei Konversi Gabah ke Beras (SKGB) yang dilakukan pada tahun 2018. Data hasil SKGB diyakini lebih akurat dari data sebelumnya dikarenakan adanya 2 survei di dua periode musim yang berbeda dengan basis provinsi, sehingga angka konversi setiap provinsi berbeda-beda.

Nilai produktivitas yang digunakan dari survei ubinan juga telah mengalami perkembangan dari yang awalnya berbasis rumah tangga, sekarang telah berbasis KSA, sehingga kemungkinan untuk lewat cacah dapat diminimalisir.